Di Papua, 12 Persen Penderita Malaria Adalah Balita dan 19 Persen Pelajar
Wakil Gubernur Deinas Geley kiri dan Kepala Unicef Perwakilan Papua, Aminuddin Mohammad Ramdan Kanan. Foto : Elia/ Papua60detik
Wakil Gubernur Deinas Geley kiri dan Kepala Unicef Perwakilan Papua, Aminuddin Mohammad Ramdan Kanan. Foto : Elia/ Papua60detik

Papua60detik - Kepala Unicef Perwakilan Papua, Aminuddin Mohammad Ramdan menyebut sedikitnya 12 persen setara 19.600 kasus dari total penderita malaria di Papua adalah kelompok usia balita.

Sementara di kelompok pelajar, angkanya lebih tinggi lagi, 19 persen atau sekitar 32.000 kasus.

"Bayangkan betapa besar potensi generasi Papua Tengah yang terganggu karena mereka harus menghadapi penyakit-penyakit yang sebetulnya bisa dicegah. Seringkali anak-anak harus absen di sekolah dan mereka juga mengalami risiko untuk tumbuh kembang," katanya saat menghadiri deklarasi eliminasi malaria Provinsi Papua Tengah di Nabire, Jumat (1/8/2025).

Menurutnya, malaria bukan hanya permasalahan kesehatan tapi maslaah perlindungan anak dan keadilan sosial.

"Anak-anak seringkali bahkan sebelum mereka bisa bicara kadang-kadang mereka sudah kena malaria, ibu hamil ketika mereka sedang mengandung dan menjaga dua nyawa kadang mereka harus berjuang melawan malaria," katanya. 

Meski begitu, mengapresiasi program Pemprov Papua Tengah, 'TOKEN' yaitu temukan, obati daan kendalikan vektornya. Ia berharap program ini berbasis komunitas yang menjangkau hingga kampung-kampung terkecil.

“Kami dari Unicef siap untuk mendukung upaya ini secara teknis terutama dalam penguatan sistem kesehatan, komunikasi perubahan perilaku yang efektif dan penggunaan data untuk memastikan tidak ada yang tertinggal dalam edukasi malaria ini," katanya.

Ia mendorong sebuah gerakan Natal tanpa malaria di Papua Tengah. Sederhananya, warga Papua Tengah merayakan Natal tanpa satupun terinfeksi malaria.

Ia mengajak seluruh masyarakat ikut berkomitmen mewujudkan gerakan tersebut.

"Indahnya Natal nanti kalau anak-anak kita bisa merayakan tanpa terganggu oleh penyakit malaria. Keluarga kita bisa berkumpul dirumah tanpa diselingi oleh isak tangis anaknya yang mengalami malaria atau harus menunggu keluarganya di rumah sakit. Bayangkan betapa indahnya suasananya Natal dalam keadaan seperti itu," kata Aminudin. (Elia)