Dinkes Mimika Perkuat Pengawasan Pangan, 30 Sanitarian Ikut Pelatihan
Papua60detik - Sebanyak 30 tenaga sanitasi lingkungan Puskesmas Dinas Kesehatan Mimika mengikuti pelatihan pengawasan keamanan pangan siap saji berbasis risiko selama lima hari.
Ketua panitia, Jeni Rante Tasik dalam laporannya menjelaskan pelatihan itu untuk meningkatkan kompetensi petugas dalam melaksanakan pengawasan keamanan pangan secara sistematis, efektif, dan berbasis risiko.
Peserta diharapkan meningkatkan keterampilan dalam pemeriksaan higiene dan sanitasi pangan siap saji, melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap pengelola pangan siap saji, mencatat pelaporan, dan tindak lanjut hasil pengawasan.
Menurutnya, meningkatnya aktivitas penyediaan dan konsumsi makanan siap saji membuat pengawasan keamanan pangan menjadi semakin penting. Pangan yang tidak memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi dapat menjadi sumber berbagai masalah kesehatan.
"Tenaga Sanitasi Lingkungan di Puskesmas memiliki peran penting dalam melakukan pengawasan terhadap keamanan pangan siap saji di wilayah kerja masing-masing," ujar Jeni, Kamis (13/8/2026).
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs, menyebut melalui pelatihan ini, para tenaga sanitariam dapat mengantisipasi berbagai risiko yang berkaitan dengan keamanan pangan.
Nantinya, para tenaga sanitarian akan memberikan edukasi kepada masyarakat cara penyediaan bahan makanan, proses pengolahan, hingga makanan tersebut siap dikonsumsi. Dengan begitu akan membantu mencegah risiko kesehatan dari pangan tidak aman.
Ia menambahkan, edukasi tidak hanya menyasar pemilik warung, rumah makan, dan pedagang kaki lima, tetapi juga masyarakat dalam lingkungan keluarga. Pemahaman mengenai keamanan pangan, kata dia, harus menjangkau masyarakat di wilayah perkotaan, pesisir hingga pedalaman.
"Kita melihat saat ini semakin menjamurnya tempat-tempat makan, warung, maupun pedagang kaki lima. Oleh karena itu, para tenaga sanitarian perlu memahami bagaimana memastikan keamanan pangan,
Godfried menegaskan, kegiatan ini penting mengingat saat ini banyak orang tidak bertanggung jawab membuat atau mengolah makanan. Misalnya, penggunaan bahan pewarna pada makanan yang menggunakan zat-zat yang seharusnya tidak dikonsumsi dan dapat mengganggu kesehatan.
"Mereka bisa beli di kota lalu dibawa ke kampung, pesisir maupun ke pedalaman. Ternyata itu bahan pewarna yang diambil dari zat-zat yang tidak seharusnya dikonsumsi," pungkasnya. (Martha)