FKUB Bawa Misi Toleransi ke Kwamki Narama
Sosialisasi Wawasan Kebangsaan dan Doa Bersama Lintas Agama di Kwamki Narama, Senin (14/4/2025). Foto: Faris/ Papua60detik
Sosialisasi Wawasan Kebangsaan dan Doa Bersama Lintas Agama di Kwamki Narama, Senin (14/4/2025). Foto: Faris/ Papua60detik

Papua60detik – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mimika kembali menyuarakan pentingnya hidup rukun dalam perbedaan. Kali ini, semangat toleransi itu dibawa ke Distrik Kwamki Narama lewat kegiatan sosialisasi wawasan kebangsaan dan doa bersama lintas agama, Senin (14/4/2025).

Dengan mengangkat tema ‘Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Melalui Toleransi dan Moderasi Menuju Mimika Maju’ FKUB menggandeng tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta puluhan warga dari berbagai latar belakang untuk bersama-sama merawat kedamaian di tengah kemajemukan.

Kepala Distrik Kwamki Narama, Yulius Hagabal Niwilingame, mengapresiasi kehadiran FKUB dan menegaskan bahwa warganya hidup berdampingan secara harmonis meski berasal dari berbagai suku.

“Kwamki Narama adalah distrik yang sangat majemuk, dihuni oleh masyarakat dari berbagai suku. Ini bukti bahwa persatuan dan toleransi telah tumbuh subur di sini. Terima kasih kepada FKUB yang hadir memberikan sosialisasi sampai ke wilayah kami. Ini adalah langkah nyata mendukung Mimika yang maju,” Kata Yulius.

Sementara itu, Ketua FKUB Mimika, Jeffrey C Hutagalung menyampaikan, keberagaman yang ada di Mimika harus dijaga dengan semangat moderasi beragama. Ia menegaskan bahwa tugas FKUB adalah menjadi jembatan penguat kerukunan.

“Sebagai warga negara dalam bangsa yang besar dan majemuk, kita harus saling menerima perbedaan suku dan agama. Inilah tujuan hadirnya FKUB, menjadi jembatan penguat toleransi dan kerukunan di tengah masyarakat,” katanya.

Jeffrey juga mengenalkan sembilan kata kunci moderasi beragama yang dianggap sebagai fondasi dalam menjaga keharmonisan masyarakat, yaitu: kemanusiaan, kemaslahatan umum, adil, berimbang, taat konstitusi, komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan penghormatan kepada tradisi.

“Kesembilan prinsip ini adalah fondasi agar masyarakat hidup harmonis dalam kebhinekaan. Kami memulainya dari Kwamki Narama karena distrik ini telah menunjukkan nilai-nilai toleransi yang kuat di tengah perbedaan,” tambahnya.

Dalam kegiatan ini, Kasdim 1710/Mimika, Mayor Inf Abdul Munir, juga turut hadir. Ia menggambarkan pentingnya persatuan dengan analogi rumah.

“Tiangnya adalah nilai-nilai kebangsaan, dindingnya adalah toleransi, dan atapnya adalah kesatuan. Jika salah satu bagian patah, maka rumah itu akan roboh. Semua elemen harus saling menguatkan supaya tetap berdiri kokoh,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Sekretaris Kesbangpol Mimika, Alfasiah, yang mengingatkan bahwa pembangunan daerah hanya akan berhasil jika seluruh pihak saling bersinergi.

“Pemerintah bisa berupaya keras, tapi tanpa dukungan dari masyarakat, hasilnya tidak akan maksimal. Jadi, mari kita rawat kebersamaan dan saling menghargai, agar semua cita-cita pembangunan bisa tercapai,” ujarnya. (Faris)