Ini Alasan PT Freeport Hindari Bangun Smelter di Papua
Diskusi Corporate Communications PTFI dengan awak media pers di Timika, Senin (5/4/2021). Foto: Burhan/Papua60detik
Diskusi Corporate Communications PTFI dengan awak media pers di Timika, Senin (5/4/2021). Foto: Burhan/Papua60detik

Papua60detik - Layak timbul tanya, kenapa PT Freeport Indonesia (PTFI) tak bangun pabrik smelter di Papua?

Tambang emas dan tembaganya di Mimika, Papua, tapi kok pabrik smelternya dibangun di Gresik?

Vice President Corporate Communications PTFI, Riza Pratama menjawab soal itu dengan dua poin alasan.

Pertama, pabrik smelter selain memurnikan konsentrat juga menghasilkan produk lain, seperti asam sulfat dan terak tembaga. Riza menyebutnya by product.

By product ini mesti dikelola agar tak jadi limbah yang mencemari. Soalnya di Papua, fasilitas atau infrastruktur yang mampu mengelola atau menyerap by product ini belum ada.

PTFI menurutnya, sengaja membangun pabrik smelter pertama pada 1996 di Gresik karena di sana telah berdiri pabrik Petrokimia. Asam sulfat dan terak tembaga ternyata sangat dibutuhkan untuk produksi pabrik pupuk.

Dengan cara demikian, kata Riza, hampir seluruh by product pabrik smelter PTFI dipakai pabrik pupuk di Gresik.

"Kalau kita bangun di Papua, sekarang ini belum ada infrastruktur yang menyerap by product atau limbah itu. Kalau tidak ada, Freeport yang harus kelola sendiri dan biayanya sangat mahal. Tidak dikelola, mencemari," jelas Riza.

Alasan kedua, operasi pabrik smelter membutuhkan daya listrik besar. Di Papua, fasilitas pembangkit yang demikian belum tersedia.

"Karena dia menguraikan katoda dan anoda. Dan itu membutuhkan listrik sangat besar. Setahu saya belum ada fasilitas lisrik (di Papua) yang bisa menjalankan pabrik sebesar itu," kata Riza.

Setelah membangun pabrik smelter pertama dengan kapasitas 1 juta ton konsentrat, PT FI kini berencana membangun pabrik smelter keduanya, masih di Gresik tapi dengan kapasitas 2 juta ton konsentrat. Pembangunannya ditaksir selesai di 2024.

Selain itu, perusahaan asal China yang mengelola pabrik nikel di Halmahera juga menawari membangunkan PTFI pabrik smelter.

"Mereka ternyata butuh asam sulfat yang besar. Mereka menawarkan, mereka bangunkan smelter karena ada kebutuhan asam sulfat. Istilahnya, mereka akan memurnikan, asam sulfatnya mereka pakai," kata Riza. (Burhan)