Kepastian Pemulangan Masyarakat Adat Tembagapura Mundur Lagi
Sembilan bulan di Timika, masyarakat adat Tembagapura yang belum bisa kembali ke kampung halamannya.
Sembilan bulan di Timika, masyarakat adat Tembagapura yang belum bisa kembali ke kampung halamannya.

Papua60detik - Kepastian waktu pemulangan ribuan masyarakat adat Tembagapura ke kampung halamannya mundur lagi.

Tim Pemulangan yang rencananya pada 17 Desember akan meninjau langsung aspek keamanan dan fasilitas dasar hidup di Tembagapura batal berangkat.

Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob mengungkap, keterbatasan transportasi jadi alasan Tim Pemulangan batal berangkat seperti rencana semula.

"Keberangkatan diundur ke tanggal 19 Desember (Sabtu) mendatang, data sudah disiapkan semua meliputi daftar nama tim yang akan berangkat siapa saja. Totalnya saya tidak tahu, tetapi yang pasti dikoordinir oleh Assisten 1 dan Kesbangpol," kata Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob, Kamis (17/12/2020).

Tim yang beranggotakan pihak-pihak terkait itu akan meninjau kesiapan rumah, fasilitas kesehatan, sekolah, dan akses jembatan di Tembagapura.

 "Nanti setelah mereka (Tim Pemulangan) mengunjungi dilakukan kembali evaluasi membicarakan selain fasilitas juga tentang kebutuhan lainnya yang menunjang pengungsi," paparnya.

Setelah evaluasi aspek keamanan dan kelayakan fasilitas dasar, keputusan kembali ke Tembagapura diserahkan kepada masyarakat.

Ribuan masyarakat ini sangat berharap bisa merayakan Natal di kampung halamannya di Banti 1, Banti 2 dan Opitawak.

"Harapanya kan mereka bisa Natal di sana tetapi, apakah akan Natal atau tidak di sana itu sudah ada alternatif yang disiapkan. Karena kita evaluasi jangka panjang, seperti pengembangan ekonomi seperti apa, apa yang akan dilakukan oleh mereka, pemberdayaan juga seperti apa," katanya.

Awal Maret 2020 lalu ribuan masyarakat dari Tembagapura Opitawak meninggalkan kampungnya karena ketakutan atas konflik bersenjata antara TNI-Polri dengan TPNPB-OPM.

Mereka diturunkan dari Tembagapura ke Kota Timika menggunakan bus PT Freeport Indonesia dalam beberapa gelombang.

Sudah sekitar sembilan bulan mereka hidup terlunta-lunta di Timika, tak terperhatikan.

Seorang masyarakat Tembagapura, Martina Natkime mencatat, selama sembilan bulan di Timika sudah  21 masyarakat dari tiga kampung ini yang meninggal dunia. Mereka sakit karena pikiran, stres, dan trauma. Belum lagi faktor alam dan cuaca Tembagapura berbeda jauh dengan Timika.

“Jadi kami maunya harus pulang tidak mau lagi saya punya orang-orang sudah meninggal habis. Ini datanya saya pegang. Jadi 21 orang meninggal di Timika. Ini bukan dari Tsinga, Arwanop, tapi ini dari 3 desa yang meninggal. Mereka meninggal karena sakit. Pikiran, trauma, stres. Dorang tidak bisa hidup di daerah ini (Kota Timika). Mereka tidak tahu naik mobil, mereka tidak tahu naik taksi, berkebun juga tidak bisa karena di sini tidak memiliki lahan,” kata Martina.

Ia meminta pemerintah tidak lagi menunda-nunda kepulangan mereka. Jika tidak dipulangkan dalam waktu dekat dan ada di antara mereka yang meninggal, Martina berjanji akan membawa jenazahnya ke Kantor DPRD. (Fachruddin Aji)