Masih Awal Desember, Harga Bumbu Mulai Membubung
Salah satu lapak pedagang bumbu dapur di Pasar Sentral Timika.
Salah satu lapak pedagang bumbu dapur di Pasar Sentral Timika.

Papua60detik - Harga sejumlah bumbu masakan di Kabupaten Mimika mulai mengalami kenaikan di awal Desember ini.

Diduga kenaikan harga ini terkait perayaan Natal dan Tahun Baru yang makin dekat.

Pantauan Papua60detik di Pasar Sentral Timika, Jumat (4/12/2020), beberapa jenis bahan baku masakan seperti cabai rawit, cabai merah besar, tomat, serta bawang merah dan bawang putih sudah mengalami lonjakan harga.

Pedagang Pasar Sentral Munaifah mengungkapkan, kenaikan harga sembako dan bumbu dapur jelang hari raya bukanlah hal baru.

"Para pedagang akan menaikan harga barang jika harga barang pada tangan pertama sudah mengalami kenaikan. Misalnya di tengkulak sudah Rp70.000 maka kami tidak mungkin jual di bawah harga itu kan," ujarnya.

Ia menyebut, harga tomat sekarang Rp30.000 perkilo, padahal sebelumnya hanya berkisar Rp20.000-Rp25.000. Cabai keriting sekilo sudah Rp100.000, bulan lalu hanya berkisar Rp70.000 perkilo. Sementara cabai merah besar Rp60.000 perkilo, sebelumnya hanya Rp50.000.

"Harga barang kita tergantung dari luar, kalau dari sana harga naik ya tentu kita juga pasti naik, karena kita juga tidak mungkin mau rugi, contohnya bawang merah dulu Rp20.000-Rp30.000 perkilo sekarang tembus Rp50.000 sekilonya," terangnya.

Pedagang lain yang ditemui di Pasar Sentral, Kasmawati berpendapat sama, setiap jelang hari raya barang di pasaran mengalami kenaikan.

Menurutnya, cabai rawit masih menjadi komoditi dengan kenaikan paling tinggi yakni Rp.100.000 perkilonya. Padahal sebelumnya harga hanya berkisar Rp 70.000 perkilo.

Faktor Ketersediaan memang menjadi penyebab utama kenaikan harga tersebut. Bila barang melimpah di pasar,  harganya pun cenderung menurun.

"Yang mahal sekarang itu cabai rawit, bawang merah dan bawang putih serta tomat. Sedangkan bawang bombai, kentang dan buncis masih stabil," paparnya.

Kasmawati menuturkan, pandemi covid-19 juga berdampak pada stok pangan dari luar yang masuk ke Timika. Meski sudah dalam masa adaptasi kebiasaan baru, namun suplai bahan seperti cabai, bawang merah dan putih dari luar belum begitu lancar. (Fachruddin Aji)