Masyarakat Omponi di Aroanop Butuh Layanan Kesehatan
Papua60detik - Tak ada yang berbeda, pada Jumat sore di Arwanop, Kampung Omponi (29/10/2021), suhu udara masih dingin menusuk ke tulang dan kabut terlihat menghiasi pemandangan rimbun hijau hutan dan tingginya gunung.
Pemandangan yang indah itu pun berubah saat mata melihat seorang anak laki-laki asli Papua memakai baju olahraga warna jingga duduk di dekat tungku perapian.
Tangannya masuk kedalam baju yang dikenakannya. Ia mengigil kedinginan.
"Saya dingin om, boleh saya tidur dekat api unggun ini kah?," ujarnya sembari terus mengosokan tangan di dalam kaus warna jingganya.
Namanya Agustin, siswa kelas dua SD Inpres Aroanop. Ia mengaku sedang tidak enak badan sejak pagi, namun karena tidak tersediannya fasilitas kesehatan, dia hanya bisa menghangatkan diri.
"Saya sudah tidak enak badan sejak pagi, rasanya dingin sekali, makanya saya mau istirahat dekat api ini biar hangat, tidak ada obat juga," katanya sembari membaringkan badan di kursi panjang disamping perapian.
Absennya tenaga kesehatan yang dua tahun belakangan tak hadir di tengah masyarakat Arwanop memang dirindukan.
Bangunan yang dulu digunakan untuk tenaga kesehatan kini tak terawat karena tak ada yang menggunakan.
Tembok-tembok yang dicat kuning berbahan tripleks, sudah dihiasi coretan-coretan spidol berwarna hitam, semakin menunjukan lamanya bangunan tersebut tak digunakan.
Tak adanya tenaga kesehatan memang membuat masyarakat Arwanop, Kampung Omponi kesulitan, sebab tak ada obat ataupun perawatan bagi anak-anak dan ibu hamil.
"Kalau orang dewasa yang sakit itu kita tinggal ke pos kesehatan milik TNI yang ada di atas itu, tetapi kan tidak lengkap juga. Kalau anak-anak yang sulit karena dosis mereka kan khusus," ujar Agustinus S Banne, saat ditemui di kesempatan berbeda.
Salah seorang guru Eustakhius menambahkan beberapa waktu lalu, ia dan rekan sesama guru mengalami gejala seperti malaria, namun karena kurangnya fasilitas kesehatan untuk melakukan pengecekan darah, hal tersebut tak dapat dipastikan.
"Karena tak ada alat di sini akhirnya kita minum saja obat malaria, padahal kita tidak tahu pasti malaria atau tidak, kami tahu itu bahaya, tetapi mau bagaimana lagi?," katanya.
Sementara itu Kepala Distrik Tembagapura Thobias Yawame membenarkan jika memang tak ada fasilitas kesehatan ataupun sarana kesehatan bagi ibu dan anak.
"Memang tidak ada fasilitas kesehatan bagi anak, dan itu sangat kami butuhkan," ungkapnya.
Thobias menambahkan, ia akan berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan berkaitan dengan tenaga kesehatan tersebut.
Kadistrik Tembagapura juga memastikan dan menjamin keamanan di Kampung Omponi, Arowanop sebab sudah terdapat dua pos TNI.
"Di sini kan ada dua pos, jadi aman," katanya.
Hingga berita ini dimuat Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Reynold Ubra saat dihubungi melalui pesan singkat, belum memberikan tanggapan (Fachruddin Aji)