Orang Tua Wajib Waspada, Kasus Campak di Mimika Tiga Tahun Terakhir Trennya Naik
Papua60detik- Kasus campak masih menjadi menjadi soal kesehatan serius di Kabupaten Mimika. Angka kasusnya tiga tahun terakhir mengalami kenaikan. Bahkan dua tahun di antaranya (2023 dan 2025) ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Tahun 2023 Kabupaten Mimika KLB campak dengan jumlah terduga campak sebanyak 356 orang, 89 sampel dikirimkan ke Surabaya dan hasilnya 19 positif campak. Status KLB langsung ditetapkan karena tren kasus naik dan rantai penularannya terdeteksi secara epidemiologi.
Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika segera melakukan upaya pengendalian yaitu memeberikan imunisasi campak tambahan. Hasilnya, pada tahun 2024 jumlah terduga campak menurun signifikan yaitu 65 orang. Semua sampel dikirimkan ke Surabaya dan didapat 32 positif campak.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, Kamaludin, menjelaskan meskipun ada kenaikan kasus dari tahun sebelumnya, tahun 2024 tidak ditetapkan sebagai KLB karena tidak ditemukan adanya transmisi penularan secara epidemologi melainkan secara sporadis atau tanpa membentuk pola penularan.
"Tahun 2024 kasus campak sebanyak 32 kasus tetapi tidak KLB walaupun lebih banyak dibanding 2023 karena dia tidak ada hubungan epidemologinya lagi atau kasusnya tidak mencar-mencar, satu di lokasi ini dan satu di sana," ujar Kamaludin saat diwawancarai, Senin (19/01/2026).
Namun, pada tahun 2025 Kabupaten Mimika kembali KLB campak. Di mana kasus terduga campak meningkat signifikan, yaitu 524 orang. Sebanyak 348 sampel dikirimkan ke Surabaya untuk uji lab dan hasilnya 120 positif campak.
Upaya menurunkan kasus tersebut Dinkes kemudian melakukan imunisasi kejar dengan mendata anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi. Petugas kesehatan kemudian melakukan kunjungan ke rumah-rumah untuk memastikan anak-anak tersebut segera diimunisasi.
"Kita tidak lagi melakukan imunisasi massal, tetapi imunisasi kejar. Jadi list nama anak-anak yang belum diimunisasi, teman-teman lakukan kunjungan rumah, seperti dikejar gitu anaknya diberikan imunisasi. Ini yang kita lakukan," terang Kamaludin.
Kamaludin memastikan, 120 kasus positif campak tersebut sudah ditangani. Dengan berbagai upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan, hasilnya terlihat di akhir Desember tahun 2025 yang menunjukkan penurunan kasus. Namun, pada awal tahun 2026 sudah ditemukan 29 kasus terduga campak yang tersebar di beberapa Puskesmas.
"Ini 29 ada di (Puskesmas) Pasar Sentral, Timika Jaya dan lainnya. Tapi ini memang masih terduga, belum ada hasil labnya," tambahnya.
Ia menegaskan, rendahnya cakupan imunisasi menjadi faktor utama munculnya kembali penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi, seperti campak. Kamaludin mengimbau para orang tua agar aktif membawa anaknya berimunisasi.
"Jadi kita sangat berharap orang tua yang punya bayi, balita itu membawa anaknya ke Posyandu untuk imunisasi, bukan cuma imunisasi campak, ada BCG, DBT, polio gitu supaya ada kekebalan tubuh. Kalau misalnya banyak anak-anak tidak diimunisasi, ya begini terus," pungkasnya. (Martha)