Pandemi dan Efeknya Pada Bisnis Kembang Api
Lapak kembang api milik Maria di Jalan Yos Sudarso Timika. Foto: Fachruddin Aji/Papua60detik
Lapak kembang api milik Maria di Jalan Yos Sudarso Timika. Foto: Fachruddin Aji/Papua60detik

Papua60detik - Hantaman pandemi covid-19 terhadap sektor ekonomi rupanya tak berpengaruh terhadap para pelaku bisnis kembang api.

Salah satu agen kembang api di Jalan Yos Sudarso Timika, Maria mengungkapkan, omzet penjualan dagangan musiman ini tak ada bedanya masa sebelum dengan masa pandemi sekarang.

"Tidak ada perbedaan antara tahun lalu dan tahun ini, animo masyarakat masih saja tinggi. Masyarakat kemungkinan berfikir kalau tidak ada ini (kembang api) tidak lengkap rasanya perayaan tahun baru," ujar Maria, Senin (28/12/2020).

Biasanya, yang datang belanja adalah keluarga dan pengecer yang bermaksud menjualnya kembali. Seperti sebelum-sebelumnya, makin dekat pergantian tahun, kembang api makin laris manis.

"Keluarga kebanyakan (yang beli), kalau dari instansi dan sejenis tidak ada," ungkapnya.

Soal harga bervariasi, makin indah bunga api yang dipancarkan, harganya pun makin tinggi. Harganya mulai dari Rp10 ribu sampai ada yang ditawarkan Rp1 juta.

"Pembelian kebanyakan yang kembang api kecil, kalau untuk yang ukuran besar tidak terlalu laku," paparnya.

Tapi Mama Rasya punya pengakuan berbeda, jualan kembang apinya jauh lebih laris tahun lalu dibanding sekarang.

Omzet hariannya menurun cukup tajam dibanding tahun lalu. Tapi ia enggan menyebut angka nilai omzet penjualannya. Dugaannya, dampak pandemi covid-19.

Aturan penjualan tetap sama, hanya boleh dibeli orang dewasa, anak-anak tak akan dilayani.

"Kalau anak kecil kita tidak berikan," akunya. (Fachruddin Aji)