PaSTi Noken 7, Freeport dan Pemkab Kolaborasi Tingkatkan Kesehatan di Dataran Tinggi
Pembukaan Forum Para - Para  SDGs PaSTi NoKen 7 di Hotel Swissbell-in Timika, Rabu (13/11/2024). Foto: Faris/ Papua60detik
Pembukaan Forum Para - Para SDGs PaSTi NoKen 7 di Hotel Swissbell-in Timika, Rabu (13/11/2024). Foto: Faris/ Papua60detik

Papua60detik – Forum Para-Para  SDGs PaSTi NoKen 7 yang digelar PT Freeport Indonesia (PTFI) dan Pemkab Mimika sebagai uapya memperkuat komitmen dalam bidang kesehatan di wilayah dataran tinggi Papua, khususnya Distrik Tembagapura. 

Forum yang digelar di Swissbel-in, Rabu (13/11/2024, membahas berbagai topik strategis, seperti pengelolaan Rumah Sakit Waa Banti (RSWB), penanganan stunting, malaria, hingga pengembangan pelayanan kesehatan berkelanjutan. 

"Freeport sangat berterima kasih kepada Pemda atas pembangunan kembali Rumah Sakit Waa Banti yang sebelumnya kami bangun. Meskipun situasi keamanan sempat menghambat, kini masyarakat sudah bisa mendapatkan pelayanan kesehatan di sana. Ini luar biasa, mengingat kami juga telah membangun rumah sakit modern lainnya di Tembagapura," ujar Senior Vice President (SVP) Community Development PTFI, Nathan Kum.

Ia menegaskan komitmen Freeport mendukung kesehatan masyarakat melalui berbagai inisiatif, seperti penyediaan air bersih, mobil ambulans, kerja sama dengan Dinas Kesehatan, hingga program penanganan stunting dan penyakit menular di 11 kampung.  

"Kami ingin masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik, khususnya di dataran tinggi. Namun, ini membutuhkan jaminan keamanan agar layanan kami di kampung-kampung dapat terus berjalan," tambahnya.  

Sekda Mimika, Petrus Yumte menyoroti pentingnya kolaborasi antara Freeport dan Pemda Mimika. Ia menyebutnya sebagai dua mesin besar pembangunan.

"Freeport dan Pemda Mimika adalah kekuatan besar. Jika dikelola dengan baik, maka masalah strategis seperti stunting, sampah, dan layanan kesehatan akan bisa teratasi. Sayangnya, banyak potensi belum dimanfaatkan secara maksimal," ujar Yumte.  

"Tingkat kunjungan di RS Waa Banti cukup tinggi, 70 sampai 100 orang. Meski demikian, pelayanannya masih seperti Puskesmas. Ini menjadi perhatian kami agar kualitasnya terus ditingkatkan," tegasnya.  

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama di wilayah pegunungan.  

"Fasilitas kesehatan harus hadir dengan dukungan empat pilar utama: sumber daya manusia, sarana prasarana, obat-obatan, dan pembiayaan. Kami bersyukur RSWB bisa hadir dengan dukungan penuh Freeport. Ini adalah bukti bahwa pemerintah hadir di dataran tinggi," kata Reynold.  

Direktur RS Waa Banti dr Anita Sanjaya, memaparkan capaian dan tantangan rumah sakit tersebut selama satu tahun terakhir.  

"Dalam satu tahun dua bulan, kami telah melayani lebih dari 13.500 kunjungan pasien, termasuk 526 pasien rawat inap dan 33 persalinan. Namun, tantangan seperti keterbatasan listrik dan transportasi masih menjadi kendala utama," jelasnya.  

Ia berharap dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, termasuk pengadaan fasilitas tambahan untuk pelayanan spesialis. "Kami juga berharap adanya kaderisasi untuk pelayanan kesehatan di kampung-kampung guna menjangkau wilayah yang sulit diakses," katanya.  

Manager Community Health Department PTFI, Daniel Perwira, menekankan bahwa komitmen Freeport dalam mendukung kesehatan masyarakat adalah bagian dari investasi sosial jangka panjang.  

"Kami bermimpi menghadirkan rumah sakit yang lebih maju di Banti. Untuk mewujudkan itu, kita perlu kolaborasi semua pihak, termasuk tokoh masyarakat. Ini adalah langkah penting untuk memastikan generasi Papua Emas tumbuh sehat dan produktif," pungkasnya. (Faris)