Pembina SATP Ikuti Pelatihan Refleksi & Empati
Papua60detik- Sebanyak 96 pembina Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) mendapatkan pelatihan refleksi dan empati, Selasa (16/4/2025). Pelaihan tersebut diselenggarakan atas kerja sama dengan Yayasan Pendidikan Lokon (YPL).
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kesadaran para pembina dalam menjalankan peran mereka secara lebih empatik dan tanpa kekerasan, terutama dalam mendampingi para siswa di lingkungan sekolah berbasis asrama.
Sekretaris Eksekutif BPH YPL, Johanis Ohoitimur mengatakan, pelatihan ini menjadi bagian penting dari pendekatan pendidikan yang diterapkan di SATP.
"Kegiatan refleksi diri ini sangat penting di lingkungan sekolah karena sejalan dengan Kurikulum Merdeka Belajar yang diterapkan oleh SATP," kata Johanis.
Dalam sesi pelatihan, para pembina diajak memahami pentingnya refleksi dan empati sebagai bagian dari proses pendampingan siswa. Refleksi dianggap sebagai elemen penting dalam proses belajar, tidak hanya bagi guru namun juga sangat relevan untuk para pembina asrama.
“Seperti yang kita lakukan tadi, para peserta diminta merefleksikan apa saja yang telah mereka lakukan terhadap anak-anak. Dari sana, mereka bisa mengevaluasi apakah tindakan mereka sudah tepat atau justru merugikan anak. Ini menjadi momen penting bagi para pembina untuk menyadari tugas dan tanggung jawabnya, baik terhadap diri sendiri maupun anak-anak,” ujarnya.

Pada sesi lanjutan, para pembina akan diberikan pembekalan tentang bagaimana menjaga keseimbangan pribadi agar dapat menjalankan peran mereka secara efektif dan penuh empati.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa pendekatan empatik penting dalam mendampingi anak-anak. Pembina diharapkan mampu mendengarkan dengan hati, memahami latar belakang serta perilaku siswa, dan tidak serta-merta menghakimi.
Setelah pelatihan, para pembina akan dievaluasi perminggu, perbulan, maupun persemester.
"Kalau hasilnya buruk maka perlu dibina dan ditekankan bahwa di SATP harus mendidik dengan secara terhormat. Walaupun ada anak yang nakal, mereka tidak boleh dikucilkan. Tapi harus melakukan pendekatan secara persuasif,” ungkapnya. (Faris)