Penasaran dengan Kopi Khas Mimika, ke Rumah Kopi Amungme Gold Saja
Launching Rumah Kopi Amungme Gold di Jalan Malcon Timika Indah 1, Senin (14/3/2022). Foto: Burhan/ Papua60detik
Launching Rumah Kopi Amungme Gold di Jalan Malcon Timika Indah 1, Senin (14/3/2022). Foto: Burhan/ Papua60detik

Papua60detik - Kopi Amungme Gold sudah tak asing lagi di telinga. Tak hanya di Timika dan Papua, kopi produksi petani lokal Mimika ini sudah dikenal sampai level nasional.

Namanya boleh sudah begitu dikenal, tapi belum tentu semua sudah menyeruput, menikmati rasa khasnya.

Untungnya, Koperasi Kopi Amungme Gold kini membuka Rumah Kopi Amungme Gold di Jalan Malcon Timika Indah 1. Launchingnya, Senin (14/3/2022). Tempatnya di tengah Kota Timika, sangat mudah diakses.

Bagi yang sekedar ingin mencicipi atau oleh-oleh buat kolega bisa mengunjungi Rumah Kopi Amungme Gold. Buka setiap hari kerja. Tersedia dua jenis, dalam bentuk bijih dan bubuk. Per 250 gram dibandrol Rp100 ribu.

Koperasi Kopi Amungme Gold ini merupakan binaan PT Freeport Indonesia (PTFI). Dikembangkan sejak 1998 di wilayah pegunungan.

"Ini mimpi kita yang sudah kita jalani susah payah. Manajemen mendampingi sejak 1998 sampai sekarang.  Sejak 2014 kita kerja sama dengan pemerintah," kata Vice President Community Development PTFI, Nathan Kum.

Sampai sekarang sebanyak 154 orang petani yang didampingi. Jumlah pohon kopi jenis Arabica sebanyak 45.759 pohon yang ditanam di lahan seluas 34,6 Hektar.

Sayang produksinya setahun masih di kisaran 1,7 sampai 2 ton gabah atau setara dengan 1,3 sampai 1,6 ton green. Padahal permintaan pasar cukup besar. Nathan berharap produksinya bisa mencapai 4 sampai 5 ton green per tahun.

"Harapan kami dari PTFI, masyarakat itu mandiri. Tidak tergantung pada perusahaan. Program kopi ini memang jangka panjang. Tambang bisa habis, kopi tidak bisa habis. Dan dimana-mana kopi itu dibutuhkan," jelas Nathan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Mimika Alice Wanma menyebut, kopi khususnya Amungme Gold kini sudah jadi produk unggulan Mimika.

"Ini biasanya kita susah dapat. Tapi sekarang (Rumah Kopi Amungme Gold) boleh ada di tengah masyarakat," katanya.

Kalau di wilayah pegunungan ada Amungme Gold dari jenis Arabica, pemerintah kini mulai mengembangkan kopi Amuro dari jenis Robusta di area low land.

Tantangannya memang ada di sisi keamanan dan transportasi, terutama di wilayah pegunungan. Setiap kali terjadi gangguan keamanan suplai kopi dari petani pasti terganggu. Suplai kopi dari Distrik Hoeya juga terhenti karena di sana tak ada bandara. 

Meski begitu, Ketua Koperasi Amungme Gold, Jeremias Engartmang tetap optimis. Usaha panjang sejak 1998 sampai kini punya kantor atau rumah kopi menunjukkan langkah maju.

Ia hanya minta terus didukung pada upaya pengembangan lahan kopi. (Burhan)