Pengungsi Tembagapura Batal Rayakan Natal di Kampung Halaman
Papua60detik - Harapan ribuan pengungsi dari Kampung Banti 1, Banti 2 dan Opitawak Distrik Tembagapura merayakan Natal dan Tahun Baru di kampung halaman mereka harus kandas.
Tim pemulangan pengungsi sudah mensurvey langsung keadaan di tiga kampung tersebut pada Sabtu (19/12/2020). Hasilnya, kondisi rumah dan fasilitas dasar lain perlu perbaikan.
"Setelah melihat kondisi bersama dengan perwakilan masyarakat yang diwakili oleh Pendeta Yohannes Naktime, tokoh perempuan Martina Natkime diputuskan masyarakat akan melakukan perayaan Natal di Mimika, karena kondisi rumah mereka yang perlu direhab," kata Ketua Tim Pemulangan, Yulius Sasarari pada rapat evaluasi di Kantor DPRD Mimika, Senin (21/12/2020).
Tim hanya melakukan peninjauan di Kampung Banti 2. Banti 1 dan Opitawak sudah diinventarisir oleh Kepala Distrik Tembagapura dan kepala kampung masing-masing.
Selain rumah Yulius menyebutkan fasilitas kesehatan perlu pembangunan ulang karena bangunan lama terbakar. Fasilitas pendidikan seperti sekolah juga mengalami kerusakan kecil.
"Khusus di Banti 2 rumah masyarakat masih dapat dihuni tetapi diperlukan rehab, kemudian barang di dalam tiap rumah itu berhamburan semua," ujarnya.
Adapun gedung Gereja Kingmi menurutnya tidak mengalami kerusakan berat, terilhat hanya kursi yang terhambur.
Berikut rincian kerusakan rumah di Kampung, Banti I, total rumah 83, rumah dengan jumlah rumah rusak total 18, perlu renovasi 65. Kampung Banti II total rumah 110, jumlah rusak total 3 unit, rumah perlu renovasi 107. Kemudian di Opitawak total rumah 75, dengan jumlah rusak total 2, dan perlu renovasi 73. Selain perumahan tim juga mendata kekurangan lain yakni air bersih dan listrik.
Keputusan pada akhirnya dikembalikan kepada masyarakat. Yulius mengatakan, masyarakat tetap bersikeras difasilitasi kembali ke kampung halaman mereka usai Natal dan Tahun Baru.
Tokoh masyarakat, Pendeta Yohannes Naktime mengatakan akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar bersabar menunggu rehab rumah dan fasilitas pendukung sebelum kembali menghuni kampung halaman mereka.
"Mau naik juga bikin apa? Kasur sudah diambil, dibakar semua. Maka dari itu tunggu direhab dahulu baru naik," tegasnya.
Ketua DPRD, Mimika Robby K Omaleng berpendapat sama, kepulangan pengungsi tiga kampung ditunda setelah semua fasilitas dan rumah siap.
"Pemulangan dilakukan setelah Natal dan Tahun Baru setelah semua fasilitas selesai direhab," katanya.
Rehabilitasi Kampung
Setelah proses rehabilitasi rampung, para pengungsi usia lanjut diprioritaskan kembali ke kampung. Pemulangan diperkirakan pada Januari hingga Februari.
"Rehab fasilitas nanti akan menjadi tanggung jawab Pemda dan PTFI," kata Yulius.
Robby berpendapat, data yang dikumpulkan tim pemulangan sudah akurat sehingga layak dijadikan tolak ukur untuk menentukan langkah jangka pendek, menengah dan jangka panjang.
"Kebijakan pasti akan ada yang diambil namun mengambil kebijakan membutuhkan waktu. Itu akan dibicarakan bersama karena harus melalui tahapan, dirumuskan bersama lalu apa yang akan dilakukan dan mana yang prioritas," katanya
Robby mengatakan, Pemkab dan manajemen PTFI akan merumuskan detil langkah merehab tiga kampung di Tembagapura.
Sebagai langkah jangka pendek, Pemkab Mimika memastikan membuat persiapan perayaan Natal bagi para pengungsi.
Pemerintah Distrik Tembagapura sudah ditugaskan menyiapkan data masyarakat yang sudah tinggal tersebar di beberapa lokasi di Mimika.
Sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah bertugas mengambil langkah nyata membantu para pengungsi merayakan Natal.
"Kita sudah koordinasi dengan BPBD, mungkin ada bahan makanan untuk mereka merayakan natal nanti. Tapi sebelum itu kita pasti koordinasi dengan pimpinan," kata Yulius. (Fachruddin Aji)