Nobar Pesta Babi di Timika, Perempuan Papua Suarakan Hilangnya Ruang Hidup
Sesi diskusi usai nobar film Pesta Babi yang digelar Lepemawi kolaborasi dengan Papuan Voices di Aula Biara Dehonian  St Yoseph - SP3 Timika, Senin (18/05/2026).  Foto: Lepemawi
Sesi diskusi usai nobar film Pesta Babi yang digelar Lepemawi kolaborasi dengan Papuan Voices di Aula Biara Dehonian St Yoseph - SP3 Timika, Senin (18/05/2026). Foto: Lepemawi

Papua60detik - Komunitas peduli lingkungan, Lepemawi kolaborasi dengan Papuan Voices gelar Nobar film Pesta Babi bersama komunitas perempuan nelayan, perempuan buruh kelapa sawit di Aula Biara Dehonian  St Yoseph - SP3 Timika, Senin (18/05/2026). 

Refleksi film dilanjutkan pada hari kedua dirangkai sharing tentang pemberdayaan perempuan Papua serta persoalan yang dihadapi akibat limbah perusahaan yang merusak lingkungan tempat mata pencaharian mereka. 

Pada kegiatan tersebut mama-mama mengeluhkan hak-hak mereka yang perlahan  dirampas oleh kehadiran perusahaan, terutama hak atas lingkungan hidup yang sehat, hak atas tanah, hak atas air bersih, dan hak atas kehidupan yang layak.

Salah satu dampak yang dirasakan adalah semakin sulitnya mencari hasil laut seperti karaka. Dulu, mama-mama bisa berangkat mencari karaka pukul 07.00 WIT lalu pulang pulang pukul 10.00 WIT untuk langsung menjual hasil laut. Sekarang, mereka harus pulang pukul 14.00 WIT karena lokasi pencarian semakin jauh. Padahal semakin jauh tempat mencari, semakin banyak juga BBM yang dibutuhkan. Pengeluaran lebih banyak daripada hasil.

Koordinator Umum Lepemawi Adolfina Kuum mengatakan diskusi itu mengungkap keresahan perempuan nelayan di pesisir yang telah kehilangan ruang hidup dan ruang kelola sejak PTFI membuang limbah tailing ke sungai Ajikwa.

Persoalan yang lebih memprihatinkan hilangnya mata pencaharian, menyebabkan sebagian dari perempuan memilih menjadi buruh kelapa sawit di Kampung Iwaka dan Kiura yang kini dioperasikan PT Karya Bela Vita.

"Mereka kehilangan tempat keramat dan ruang kelola hidup seperti tempat berburu, mencari sayur-mayur, kayu bakar, akses air bersih. Sebagian perempuan nelayan di kampung Kiura dan Iwaka memilih menjadi perempuan buruh kelapa sawit," kata Adolfina. 

Menurutnya, apa yang dialami mama-mama di Mimika sebetulnya tak beda jauh dengan situasi di Papua Selatan, lokasi film Pesta Babi dibuat. Film karya Dandhy Laksono tersebut membuka kesadaran mama-mama Papua bahwa apa yang mereka alami saat ini sedang terjadi juga di seluruh Papua, bahkan lebih parah. 

"Saya pikir, dengan perempuan-perempuan dong nonton itu, mereka bisa paham tentang, Oh ternyata dampak perusahaan ini bukan hanya terjadi di Timika, tapi di seluruh Papua sedang alami ini," tambahnya. 

Setelah Nobar Pesta Babi, agenda dilanjutkan dengan materi refleksi film dan perawatan kolektif oleh Frater Fransiskus X. Dalam pemaparannya, Ia menjelaskan tentang hubungan spritual alam dengan kehidupan masyarakat khususnya dengan perempuan. 

Menurutnya, situasi batin yang dirasakan perempuan sering kali sangat dipengaruhi oleh alam. Di mana alam dapat dianalogikan sebagai seorang ibu yang memberi kehidupan bagi manusia yang hidup di dalamnya. Oleh karena itu, banyak perempuan memiliki kepekaan lebih kuat terhadap perubahan alam di sekitarnya

Secara spiritual, alam mengajarkan manusia tentang siklus kehidupan melalui interaksi dan hubungan timbal balik yang saling memengaruhi. Alam memberi kehidupan kepada manusia, sementara manusia memiliki tanggung jawab menjaga dan merawat alam. 

"Fokus yang saya sajikan bagaimana terutama dalam materi itu hubungan mereka melihat dan merasakan, pandangan emosional yang mereka alami terutama sebagai kaum perempuan yang memiliki sisi perasaan yang lebih halus, naluri seorang ibu. Ini adalah termasuk kelebihan kaum ibu," Fransiskus. (Martha)