Proyek Air Bersih Kampung Fanamo: CV Kuku Perkasa Bantah Tudingan Mangkrak Anggota DPRK Mimika
Air bersih tampak mengalir di Kampung Fanamo,  Foto: CV Kuku Perkasa
Air bersih tampak mengalir di Kampung Fanamo, Foto: CV Kuku Perkasa

Papua60detik – Menyikapi tudingan anggota DPRK Mimika yang menyebut proyek air bersih di Kampung Fanamo, Distrik Mimika Timur Jauh mangkrak, penyedia jasa pelaksana CV Kuku Perkasa angkat bicara.

Perwakilan CV Kuku Perkasa, Yehuda tegas membantah tudingan itu. Katanya, air bersih masih tetap mengalir hingga hari ini.

Yehuda menjelaskan proyek sarana dan prasarana air bersih itu dikerjakan tahun 2024, dengan nilai kontrak sebesar Rp2,9 miliar tidak seperti yang disebutkan anggota DPRK Mimika sebelumnya yang bernilai Rp4 miliar. Semua pekerjaan sudah diselesaikan sesuai dengan dokumen kontrak dan Rencana Anggaran Biaya (RAB), seperti pemasangan pipa ke rumah-rumah sebanyak 135 titik, pembangunan rumah pompa, menara air dan dudukan tangki serta Instalasi seluruh jaringan air bersih ke rumah warga.

“Kami kerjakan sesuai RAB selain yang itu ada pemasangan solar cell, water tank fiber 3 buah, serta filter air beserta aksesorisnya,” kata Yehuda saat dikonfirmasi Papua60detik, Senin (28/7/2025).

Yehuda menjelaskan, sejak awal proyek ini memang tidak mencakup pekerjaan  pembuatan sumur baru. Ketika memulai pekerjaan, berdasarkan petunjuk dari aparat kampung, mereka diarahkan untuk mengambil air dari sumur lama milik warga.

Awalnya sumur tersebut dianggap cukup, bahkan warga menyebut airnya tidak kering meski musim kemarau. Tapi ketika rumah pompa tower air, water tank dan fasilitas lain telah selesai dikerjakan dan sistem pompa mulai dinyalakan sumur langsung kering.

“Tapi, sumber sumber air di sumur debitnya sangat kecil sehingga dianggap tidak cukup  mengisi tangki-tangki yang ada,” jelasnya.

Meskipun tidak diwajibkan dalam kontrak, CV Kuku Perkasa, klaim Yehuda, tetap berusaha membantu masyarakat. Mereka mencari sumber air lain yang lebih kuat, lalu membangun sistem tambahan dari dana pribadi. Mulai dari pipa baru, mesin sedot air, bensin untuk mesin hingga tenaga operator lokal dibayar langsung oleh perusahaan.

“Kami temukan sumber air ada sekitar 100 meter dari lokasi di kampung sebelah, lalu  kami bangun instalasi baru. Itu semua kami lakukan di luar dari kontrak pekerjaan kami. Murni tanggung jawab moril kami,” kata Yehuda.

Setelah sistem air berjalan, muncul masalah baru. Pipa-pipa dan kran air banyak yang dirusak oknum warga, bahkan sampai tiga kali. Setiap rusak, perusahaan memperbaiki kembali.

Katanya, ketika air didistribusikan ke rumah warga, banyak kran air dirusak oleh oknum warga. Perbaikan telah dilakukan tapi hal itu terjadi terus menerus. terjadi dan menyebabkan air habis di tengah jalan sebelum sampai ke rumah warga yang berada di ujung kampung.

“Kami sudah sosialisasi dan edukasi ke warga, tapi masih banyak yang belum sadar. Ini bukan masalah teknis lagi, tapi soal perilaku,” ujarnya.


Agar penggunaan air lebih efisien dan merata, air dialirkan setiap hari dari pukul 16.00 sampai 18.00 WIT.

"Kenapa sore hari? Karena kami harus tampung air dulu, dan juga menghindari pemborosan. Jadi kalau ada yang datang pagi dan bilang air tidak jalan, itu karena memang belum jam penyaluran,” jelas Yehuda.

Berdasar bukti beberapa video yang dikirimkan oleh operator yang diterima media ini memperlihatkan air mengalir dari kran-kran warga. Kata Yehuda, perusahaan rutin menerima laporan dari operator di lapangan setiap hari mengenai perkembangan air bersih di Kampung Fanamo.

Untuk menjaga kelangsungan sistem, CV Kuku Perkasa menggaji warga lokal sebagai operator. Mereka dilatih, diberi tugas menyalakan dan mematikan pompa, dan dicek setiap hari. Biaya gaji, bensin, dan logistik diberikan langsung oleh perusahaan meskipun itu di luar kontrak kerja dam masa kontrak proyek sudah selesai.

“Selama masa pemeliharaan hingga Agustus ini, kami masih bertanggung jawab. Tapi setelah itu, harapan kami warga bisa jaga fasilitas ini dengan baik,” katanya.

CV Kuku Perkasa menegaskan bahwa proyek ini bukan mangkrak, melainkan menghadapi tantangan teknis di luar kontrak yang tetap mereka tangani secara bertanggung jawab.

“Kami minta semua pihak pahami, ini bukan soal gagal bangun. Ini soal menjaga dan menggunakan fasilitas dengan benar. Kalau semua bekerja sama, air akan terus mengalir,” tutup Yehuda. 

Sebelumnya, pada kunjungan kerja di Distrik Mimika Timur Jauh, Sabtu (26/7/2025) anggota DPRK Mimika, Simson Gujangge menemukan proyek air bersih tersebut tak berfungsi dan menyebutnya mangkrak setelah mendapat informasi dari pemerintah distrik. Katanya proyek air bersih itu hanya sempat diuji coba satu kali dan mangkrak hingga saat ini. (Faris)