Ratusan Pendulang Area Utikini Tembagapura Ditertibkan ke Timika
Aparat kepolisian mendata para pendulang yang hendak diturunkan ke Timika. Foto: Istimewa/Papua60detik
Aparat kepolisian mendata para pendulang yang hendak diturunkan ke Timika. Foto: Istimewa/Papua60detik

Papua60detik - Aparat gabungan TNI-Polri menertibkan ratusan penambang tradisional atau pendulang di area Utikini, Distrik Tembagapura hingga bantaran Kali Kabur, Jumat (18/12/2020)

"Untuk pendulang atau masyarakat sudah tidak ada disana. Saya sudah instruksikan kepada Kapolsek Tembagapura, sementara sudah didata ada ratusan orang," kata Kapolres Mimika, AKBP IGG Era Adhinata saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat siang.

Penertiban itu, jelasnya, juga menghindari terjadinya tindak pidana, kecelakaan dan mencegah aksi penyanderaan seperti yang terjadi beberapa tahun lalu.

"Rencana besok jam 7 pagi sudah di Timika. Dijadwalkan pakai dua bis milik PTFI.

Satu-satunya akses jalan darat dari Timika ke Tembagapura adalah jalan tambang PTFI. Tapi mereka ini, kata Kapolres, lewat jalan tikus atau jalan kecil ke Tembagapura. Aktifitas seperti ini sudah seringkali terjadi tahun-tahun sebelumnya.

"Sebelumnya itu ribuan. Sekarang sudah menurun. Namun harapan kami wilayah itu sudah kosong, tidak ada lagi," ujarnya.

Sementara itu, Kapolsek Tembagapura Ipda Eduardus Edison menjelaskan, para pendulang ini naik dari Timika ke area Tembagapura sekitar November lalu.

"Kami masih mengumpulkan seluruh masyarakat pendulang yang akan turun besok. Mereka akan istirahat sementara di Polsek untuk malam ini," singkatnya saat dikonfirmasi melalui sambungan panggilan telepon, Jumat siang.

Aktifitas pendulangan di Utikini terungkap setelah video aksi sejumlah karyawan perempuan Papua yang berasal dari Waa-Banti, mendatangi Pos 4 security lalu mengamuk pada Minggu (13/12/2020) kemarin.

Dalam aksi itu, mereka memaksa petugas security menutup gerbang akses Tembagapura menuju Waa-Banti dan sebaliknya.

Mereka mengatakan, masyarakat asli Waa-Banti sebagai penduduk setempat belum dikembalikan tapi aktivitas penambang tradisional justru marak di wilayah itu. (Salmawati Bakri)