Sejak 2004, PT Freeport Tanami Mangrove Daratan Sedimentasi Tailing
Reclamation, Biodiversity and Education PT Freeport Indonesia  menanami mangrove daratan sedimentasi tailing di pesisir Mimika. Foto: Dicky Elwuar/ Papua60detik
Reclamation, Biodiversity and Education PT Freeport Indonesia menanami mangrove daratan sedimentasi tailing di pesisir Mimika. Foto: Dicky Elwuar/ Papua60detik

Papua60detik - Tailing atau sisa pasir operasi tambang PT Freeport Indonesia telah membentuk daratan baru di pesisir Mimika. 

Tailing halus yang terbawa aliran sungai hingga ke wilayah pesisir, lewat proses sedimentasi kini menjadi sebuah pulau baru atau delta. 

Sejak 2004, Reclamation, Biodiversity and Education PT Freeport Indonesia mereklamasi daratan baru itu dengan menanam mangrove yang berfungsi menanam abrasi.

"Dengan penanaman mangrove ini diharapkan daratan baru ini dapat terjaga, sehingga dapat dimanfaatkan lebih luas di masa depan," jelas General Superintendent Reclamation, Biodiversity and Education PT Freeport Indonesia Robert Sarwom usai menanam mangrove di Muara Ajkwa.

Jenis mangrove yang ditanam adalah Rhyzophora Mucronata. Mangrove jenis ini berakar panjang sehingga mampu menahan bibit tanaman lain di akarnya. Pada gilirannya, akan terjadi suksesi alami pembentukan hutan.

Lewat program reklamasi ini, PTFI telah menanam 2,6 juta pohon mangrove di luasan 450 hektar daratan baru itu.

"Daratan baru ini dalam bahasa Kamoro disebut dengan 'waii' dan kandungannya tidak sepenuhnya tailing tetapi ada sedimen alami yang tercampur. K emudian tailing halus ini sangat cocok dengan habitat mangrove karena tailing halus itu bentuknya lumpur," jelasnya.

Menurut Robert, ekosistem mangrove yang terbentuk secara tidak langsung menyeimbangkan ekosistem muara dengan hadirnya burung-burung liar yang menjadikan lokasi tersebut sebagai sarang.

"Jadi boleh dibilang tempat yang tadinya kosong itu bisa menjadi ramai oleh berbagai satwa," ucapnya.

Robert mengklaim tingkat keberhasilan program penanaman mangrove hampir mencapai 90 persen. Penanamannya dibikin rapat untuk membantu mempertahankan akar mangrove agar tidak mudah rusak saat adanya abrasi.

Dalam proses reklamasi di wilayah pesisir, PTFI melibatkan masyarakat Suku Kamoro yang merupakan penduduk asli wilayah tersebut. Pelibatannya dalam bentuk kontrak kerja dengan CV Asibek Naram dan CV Kapare.

Dalam satu tahun, PTFI menggelontorkan Rp1,6 miliar untuk program penanaman mangrove untuk lahan seluas 70 hektar.

Robert berharap program ini bermanfaat bagi masyarakat asli Kamoro yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan. Mereka tidak perlu mencari jauh karena ikan melimpah di sekitar mangrove.

"Manfaat yang lain adalah kami PTFI mendukung pemerintah dalam program mengurangi efek rumah kaca. Sebab dengan adanya penanaman ini maka lahan yang terbuka akan semakin berkurang," tutupnya. (Fachruddin Aji/Dicky Elwuar)