Timika Belakangan Kerap Diguyur Hujan, BMKG: Itu Normal
Forecaster BMKG Mimika, Dwi Kristianto. Foto; Martha/ Papua60detik
Forecaster BMKG Mimika, Dwi Kristianto. Foto; Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Akhir-akhir ini Kota Timika kerap diguyur hujan deras. Padahal masa puncak musim hujan masih terbilang jauh, Juli nanti. 

Namun, ternyata keadaan ini ternyata normal. Forecaster BMKG Mimika, Dwi Kristianto mengatakan warga yang sudah lama tinggal di Mimika tidak akan heran dengan keadaan cuaca seperti ini.

Ia menjelaskan, puncak musim hujan  memang terjadi pada bulan Juli hingga pertengahan September. Di mana intensitas hujannya ringan tapi durasinya panjang, tidak disertai angin kencang dan tidak ada petir. 

Selesai dari bulan tersebut hujan akan tetap ada dan umumnya terjadi pada sore hingga malam hari. Tetapi, durasinya sebentar dan intensitasnya sedang hingga lebat disertai angin kencang kadang-kadang petir. 

Kondisi hujan seperti itu akan terjadi dari bulan Desember hingga April 2025. ini merupakan siklus yang terus berulang setiap tahun. Pada siang hari suhu minimumnya 23°C dan suhu maksimumnya 34°C. 

"Itu memang siklus tahunan di Timika, makanya kalau misalnya sesorang baru tinggal 2 hingga 3 tahun di sini pasti heran. Padahal itu normal, yang tidak normal itu apabila Timika berada pada suhu di atas 34°C, Nah, itu baru ada apa-apa," kata Dwi. 

Dwi menjelaskan, beberapa wilayah di Papua sepertiTimika, Sorong, Wamena, dan Biak kondisi cuacanya lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lokal.

Berbeda dengan daerah lainnya, misalnya wilayah Tengah dan Barat Indonesia, kondisi cuacanya dipengaruhi musim, sehingga mudah memprediksi kapan wilayah tersebut akan memasuki musim hujan maupun musim kemarau.

Wilayah dengan faktor lokal yang kuat dipengaruhi oleh letak pegunungan dan lautan. Sehingga tidak bisa ditetapkan bahwa wilayah tersebut, misalnya Timika akan masuk musim hujan  pada bulan tertentu, atau kapan akan mengalami musim kemarau. 

"Untuk wilayah yang faktor lokalnya kuat, agak susah prediksinya, dapat 80 persen ketepatan akurat, itu saja sudah syukur. Selama ini untuk Timika, batas minimal keakuratnya itu sudah 80 persen. Jadi sudah bisa dibilang bagus," terangnya. 

Dalam melakukan prakiraan, BMKG menggunakan data climate sebagai acuan. Data climate tersebut bersumber dari data yang dikumpulkan setiap harinya, mulai dari data kelembapan, curah hujan, suhu, tekanan dan angin. (Martha)