Untuk Kesehatan, Stop Nikah Usia Dini
Papua60detik - Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Mimika melalui Pokja IV menggelar sosialisasi kesehatan reproduksi bagi remaja gereja, masjid, Budha dan Hindu di Hotel Grand Tembaga, Senin (14/11/2022).
“Banyak anak-anak menikah di usia dini. Jangan menikah dulu kalau masih sekolah apalagi usia perkawinan ideal untuk wanita adalah 20 tahun,” pesan Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Pemda Mimika, Maria Rettob saat membuka kegiatan.
Fenomena saat ini menurutnya, perkembangan kehidupan remaja sangat bergantung pada informasi global yang mungkin tidak sehat, seperti mengonsumsi miras, merokok, dan penyalahgunaan obat terlarang.
“Jangan sampai kalian terlibat dari penyalahgunaan barang terlarang dan pergaulan sehingga dapat merugikan diri sendiri,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Panitia Sosialisasi, Carolina Heatubun mengatakan saat ini Indonesia banyak permasalahan dan tantangan dalam upaya pelayanan reproduksi dan pemenuhan hak-hak reproduksi.
“Pernikahan dan kehamilan remaja cukup tinggi dan menurut SDKI tahun 2017 sebanyak 7 persen perempuan usia 15-19 tahun sudah pernah melahirkan atau sudah melahirkan anak pertama," ungkapnya.
Sementara berdasarkan Riskesdas tahun 2018 kekurangan energi kronis pada ibu hamil sebesar 17,3 persen dan diantaranya, perempuan usia 15-19 tahun yaitu sebesar 33,5 persen.
“Upaya untuk meningkatkan status kesehatan reproduksi harus dilaksanakan bukan hanya setelah terjadi kehamilan tetapi juga harus dilaksanakan sejak masa remaja, calon pengantin dan wanita usia subur,” katanya.
Salah satu yang bisa dilakukan untuk menekan angka tersebut adalah edukasi seperti sosialisasi kesehatan dengan cara perawatan organ reproduksi, perkembangan remaja saat pubertas, dampak pornografi dan kehamilan tidak diinginkan.
Juga penting meningkatkan kemandirian wanita dalam memutuskan peran dan fungsi reproduksinya. Meningkatkan hak dan tanggung jawab sosial wanita dalam menentukan kapan hamil, jumlah dan jarak kehamilan, serta meningkatkan hak dan tanggung jawab sosial pria akibat dari perilaku seksual dan fertilitasnya kepada kesehatan dan kesejahteraan pasangan dan anaknya.
dr Leonard Pardede yang jadi narasumber pada acara tersebut mengajak peserta menjaga diri termasuk alat reproduksi yang bisa saja mendatangkan penyakit hingga kematian apabila tidak dirawat dengan baik.
“Hamil di usia muda itu berbahaya bagi mulut rahim. Gonta ganti pasangan seks beresiko (tanpa kondom) juga bisa menimbulkan penyakit menular seksual hingga HIV,” imbuhnya. (Faris)