Anggota TGPF Dievakuasi ke Jakarta Usai Tertembak di Intan Jaya
Satu anggota TGPF diterbangkan ke Jakarta pada Sabtu (10/10/2020) usai tertembak di Intan Jaya sehari sebelumnya.
Satu anggota TGPF diterbangkan ke Jakarta pada Sabtu (10/10/2020) usai tertembak di Intan Jaya sehari sebelumnya.

Papua60detik - Satu anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus penembakan di Kabupaten Intan Jaya, Bambang Purwoko dievakuasi ke Jakarta menggunakan Boeing 737 TNI-AU, Sabtu (10/10/2020).

Bambang tertembak di pergelangan kaki kiri dan pergelangan tangan kiri saat bergerak pulang bersama rombongan TPGF dari Distrik Hitadipa menuju Sugapa sekitar pukul 15.30 WIT, Jumat (09/10/2020) kemarin.

Seorang korban penembakan lain, prajurit  Satgas Apter Hitadipa, Sertu Faisal juga dievakusi ke Jakarta. Faisal tertembak di bagian pinggangnya saat mengawal rombongan TGPF.

Sementara Prada Ginanjar dari  Satgas 400/BS hanya terkena rekoset tembakan di tangan kiri dan sudah kembali bertugas.

Pihak TNI menuding KKSB atau kelompok yang menyebut diri TPNPB-OPM sebagai pelaku penembakan.

"Kedua korban penembakan KKSB  dievakuasi langsung ke Jakarta tadi pagi sekitar pukul 08.25 WIT pagi," kata Asops Kaskogabwilhan III, Brigjen TNI Suswatyo saat ditemui di bilangan Jalan Cenderawasih SP3.

Proses evakuasi korban dari Intan Jaya ke Timika didampingi jajaran TNI-Polri. Sebelum diterbangkan ke Jakarta kedua korban menjalani perawatan medis di UPTD RSUD Sugapa, Kabupaten Intan Jaya.

"Salah satu korban, yakni Sertu Faisal Akbar direncanakan dievakuasi ke RSMM Caritas, tetapi berdasarkan assessment, diputuskan dievakuasi ke Jakarta. Informasi dari dokter yang melakukan assessment, kedua korban dalam kondisi stabil," ujarnya.

Meski satu anggotanya terkena tembakan, TGPF tetap berada di Intan Jaya, melanjutkan tugas mencari data dengan harapan bertemu banyak pihak yang bisa menceritakan terjadinya kekerasan dan penembakan pada September lalu.

Suswatyo menjelaskan, TGPF terdiri dari dua tim, satu langsung ke Sugapa, Intan Jaya, satunya lagi bekerja di Jayapura. Tugasnya sama, mencari data dan menemui pihak terkait atas kekerasan bersenjata di Intan Jaya.

"Sesuai rencana mereka bertugas sampai tanggal 11 September. Mudah mudahan semuanya tidak ada gangguan lagi. Tim akan kembali pada 12 September," katanya.

Tim yang bertugas ke Sugapa bertolak ke lokasi pada Kamis (08/10/2020) setelah sehari sebelumnya transit di Timika. Tim dipimpin Benny Mamoto.

Situasi keamanan di Intan Jaya memang memanas sejak September lalu dan tak kunjung mereda.

Pada Senin (14/09/2020), dua warga sipil di Distrik Sugapa Kabupaten Intan Jaya tertembak. Keduanya selamat dan saat ini dirawat di Timika.

Tiga hari kemudian, Kamis (17/09/2020) seorang tukang ojek, Baidlawi dibacok menggunakan parang hingga lengan kirinya putus. Karena pendarahan hebat, korban akhirnya tewas di tempat.

Di hari yang sama, Serka Sahlan Babinsa Ramil 1404-06 yang sedang dalam perjalanan membawa logisti ditembak dan dibacok. Satu pucuk senjata laras panjang miliknya dilaporkan hilang.

Kemudian, kasus penembakan yang menewaskan prajurit TNI bernama Pratu Dwi Akbar dan Pendeta Yeremia pada Sabtu (19/9/2020).

Pratu Dwi Akbar tewas setelah terlibat kontak tembak dengan kelompok sipil bersenjata.

Sementara Pendeta Yeremia Zanambani meninggal dunia setelah ditembak di Kampung Hitadipa, Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya. Kematian tokoh agama paling disegani di Intan Jaya itu kemudian berujung polemik saling tuduh antara TNI dengan TPNPB-OPM.

Kekerasan bersenjata kembali terjadi pada Rabu (07/10/2020), seorang pewarta Gereja Katolik, Agustinus Duwitau dilaporkan tertembak.

"Kami hari ini bergerak menuju Sugapa untuk mulai mengambil keterangan-keterangan kasus penembakan di Intan Jaya," kata Benny Mamoto saat ditemui di Hotel Horison, sebelum menuju ke Terminal Bandara Mozes Kilangin, Kamis pagi.

Sebelumnya, TGPF telah menyusun rencana kegiatan untuk mengusut kasus penembakan di Intan Jaya, Papua. TGPF menegaskan pihaknya akan menjawab kesimpangsiuran informasi terkait peristiwa yang menewaskan dua anggota TNI dan dua warga sipil di sana.

Benny menegaskan timnya akan mengungkap kasus ini secara terbuka. Serta menjawab kesimpangsiuran informasi terkait penembakan ini.

"Kami ingin membuat terang peristiwa ini, itu kuncinya," katanya. (Salmawati Bakri)