Bagaimana Mimika Menangani Malaria Saat PON?
Ilutrasi nyamuk malaria
Ilutrasi nyamuk malaria

Papua60detik - Menjadi tuan rumah tapi dengan status endemik malaria jadi masalah yang tak kecil bagi Kabupaten Mimika.

Soalnya adalah bagaimana  menjaga ribuan orang yang datang tak terjangkit parasit malaria.

Memastikan itu, Dinkes Mimika memantau kasus malaria di sekitar venue dan penginapan atlet PON sejak Maret 2021 lalu.

Sejumlah rumah di dalam radius 500 meter dari venue dan penginapan disemprot disinfektan untuk streilisasi sekaligus membasmi nyamuk malaria.

“Kami sudah lakukan penyemprotan untuk rumah-rumah, pemantauan kepatuhan minum obat bagi penderita malaria yang ditemukan juga sudah, kemudian yang terakhir kami sedang melakukan survei jentik nyamuk,” kata Kepala DInas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra di Gedung Tongkonan, Senin (21/6/2021).

Bagaimana hasilnya? Reynold mengatakan, evaluasi baru akan dilakukan pekan ini. Tapi klaimnya, penyemprotan dan pembagian kelambu sudah capai 75 persen dari target.

Sebagian besar venue PON berada di wilayah kerja Puskesmas Timika Jaya. Di wilayah itu, sebutnya, jumlah kasus malaria yang terjadi sebanyak 1000 kasus dalam sebulan.

“70 persen dari kasus tersebut itu adalah pasien yang tidak patuh meminum obat, sementara 30 persen sisa merupakan infeksi baru. Laporan itu berdasar laporan harian atau surveillance, secara tidak langsung kasus itu menurun dibandingkan sebelumnya, tetapi secara nasional masih tinggi,” ungkapnya.

Menurut data Kemenkes, pada tahun 2020 Papua menjadi penyumbang malaria terbesar di Indonesia dengan angkas kasus sebanyak hampir 200.000 kasus, diikuti Nusa Tenggara Timur dengan kasus di bawah 50.000 dan Papua Barat dengan sekitar 9.000 kasus.

Dikutip juga dari portal resmi penanganan Malaria Kementerian Kesehatan Indonesia, Malaria.id kasus aktif malaria di Papua tercatat sebanyak 65.674 kasus, diikuti Nusa Tenggara sebanyak 2338 kasus dan Sumatera 1071 kasus.

Menanggulangi masalah malaria jelang PON XX di Mimika, Dinkes Mimika akan dibantu Dinas Kesehatan Provinsi Papua terutama terkait ketersediaan obat malaria dan alat tes diagnostic cepat (RDT). (Fachruddin Aji)