Bibit Siklon Tropis Surigae Tidak Berdampak Besar di Mimika
Prakirawan BMKG Timika yang bertugas Kamis (15/4/2021), Fitria Nur Fadlilah. Foto: Anti Patabang/Papua60detik
Prakirawan BMKG Timika yang bertugas Kamis (15/4/2021), Fitria Nur Fadlilah. Foto: Anti Patabang/Papua60detik

Papua60detik - Peringatan yang keluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait Bibit Siklon Tropis 94W di Samudera Pasifik Utara Papua tepatnya di -5.8LU-141.1BT yang termasuk wilayah monitoring TCWC Jakarta diprakirakan tidak berdampak besar untuk wilayah Kabupaten Mimika.

Prakirawan BMKG Mimika, Fitria Nur Fadlilah menjelaskan pengaruh bibit siklon tropis surigae di Mimika pada umumnya adalah cuaca berawan hingga hujan dengan intensitas ringan hingga sedang saja dan tidak berbahaya.

Ia menjelaskan siklon tropis surigae merupakan hujan deras disertai petir dan angin kencang yang bisa menyebabkan badai.

“Berbeda dengan wilayah Papua bagian utara seperti Jayapura. Ini lumayan lebih dekat dengan pusat siklonnya. Tapi yah tetap dampak yang diterima adalah dampak tidak langsung,” jelasnya kepada Papua60detik, Kamis (15/4/2021).

Ia mengatakan pusat siklon tropis ini berada di lautan Pasifik yaitu di 8,2 derajat lintang utara (LU) dan 137 derajat bujur timur (BT). Pergerakannya ke arah barat laut atau sekitar 1050 km sebelah utara Biak.

Pergerakan siklon tropis surigae menuju ke arah Barat Laut dengan kecepatan 10 knots atau 18 km/jam bergerak menjauhi wilayah Indonesia. Sehingga tidak begitu memberi dampak buruk. Namun masyarakat tetap diminta untuk waspada.

Beberapa wilayah yang paling berpotensi mendapat dampak tidak langsung pergerakan siklon tropis surigae antaralain daerah sekitar Maluku Utara, Sulawesi Utara, Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.

"Kalau siklon seroja kemarin kan secara langsung karena memang pusat siklonnya melalui wilayah NTT, jadi dampaknya sangat dahsyat atau sangat besar," jelas Fitria.

Namun secara keseluruhan di Bulan April ini di Mimika memang sudah memasuki musim hujan dengan intensitas sedang dan secara keseluruhan terjadi di wilayah Mimika. Puncaknya diprediksi akan terjadi pada Juli dan Agustus, dimana hujan bisa terjadi setiap hari.

“Kalau kemarin kan memang cenderung sore hari yah karena akibat konveksi pemanasan yang terjadi pada siang harinya kemudian sorenya sudah mulai terkumpul massa udara di atmosfir kemudian turun hujan itu disebabkan oleh awan-awan konfektif. Akan tetapi kalau mulai April sekarang mulai ke awan stratus. Jadi dia hujannya lama tapi tidak dalam intensitas deras sekali,” jelasnya. (Anti Patabang)