Di Jayapura Mahasisa Unjuk Rasa Tutup Freeport, Timika Siaga 1
Papua60detik - Mahasiswa di Jayapura pada Rabu (7/4/2021) menggelar unjuk rasa dengan agenda tunggal, menutup operasi PT Freeport Indonesia
Dalam edaran pernyataan sikap mahasiswa yang diterima Papua60detik, aksi itu terkait kontrak karya pertama PTFI yang ditandatangani pada 7 April 1967, tepat hari ini, 54 tahun silam.
Mahasiswa menilai, operasi tambang PTFI sebagai sumber masalah bagi rakyat Papua.
"Akar persoalan besar bagi bangsa Papua adalah penanaman modal asing PTFI dengan menanamkan 4 hal yakni imperialisme, kapitalisme, kolonialisme dan militerisme. Untuk itu solusinya adalah PT Freeport harus ditutup, Otsus Jilid II harus ditolak, pemekaran daerah otonom baru ditolak dan berikan hak penentuan nasib sendiri kepada rakyat Papua dari Sorong sampai Samarai," seperti tertulis di edaran tersebut.
Tak hanya di Jayapura, seruan aksi yang sama tersebar di beberapa kota lain di Indonesia.
Di Mimika, tempat operasi tambang PTFI, TNI-Polri dibantu Satpol PP langsung apel gabungan. Mimika siaga 1.
Kabag Ops Polres Mimika, AKP Roberth Hitipeuw menyebut, siaga satu akan terus berlanjut sampai Mimika benar-benar aman.
Sebanyak 300 personel gabungan disiagakan, patroli ditingkatkan di beberapa tempat yang dianggap rawan.
"Antisipasi dilakukan dengan cara patroli, mendeteksi dini setiap tempat rawan menjadi titik kumpul massa seperti di check point 28, 38 di lapangan Timika Indah dan areal kota lainnya Karena PTFI itu adanya di wilayah kita, maka kita melakukan antisipasi," ujarnya saat ditemui awak media di Kantor Pelayanan Polres Mimika, Rabu siang.
Hingga Rabu malam, Kota Timika terpantau aman dan tidak terprovokasi aksi yang terjadi di Jayapura. TNI-Polri akan membubarkan kumpulan massa.
"Hingga saat ini, pantauan dan deteksi dari Intel belum ada perkumpulan massa tertentu, karena kepolisian juga telah melakukan pendekatan terhadap mahasiswa maupun tokoh-tokoh yang dianggap punyai intens," ujarnya menambahkan. (Salmawati Bakri)