Dinkes Mimika Target Eliminasi TBC di 2030
Capt: Peringatan Hari TBC Sedunia di Mimika, Selasa (11/4/2023). Foto: Faris/Papua60detik
Capt: Peringatan Hari TBC Sedunia di Mimika, Selasa (11/4/2023). Foto: Faris/Papua60detik

Papua60detik - Dinas Kesehatan Mimika menargetkan eliminasi kasus TBC pada tahun 2030 mendatang.

Kepala Seksi Penyakit Menular Dinas Kesehatan Mimika, Kamaludin mengatakan, jajaran Dinkes memiliki waktu enam tahun menurunkan kasus TBC ke angka 65 per seratus ribu penduduk.

"Maka selama 6 tahun ke depan angka TBC harus menjadi 65 per 100 ribu penduduk. Dan angka kematian 6 per 100 ribu penduduk," ungkapnya saat ditemui di Hotel Horison Ultima Timika, Papua Tengah, Selasa (11/4/2023).

Di Mimika angka kejadian TBC sebesar 700 per 100 ribu penduduk. Angka itu menurut Kamaluddin, dua kali lipat dari angka nasional.

"Dan ini akan kita turunkan menjadi 65 per 100 ribu penduduk. Ini adalah pekerjaan yang sangat berat. Dan pada tahun 2022 telah berhasil melakukan pemeriksaan TBC kepada 12 ribu orang dan merupakan pencapaian pemeriksaan orang tertinggi sepanjang tahun 2014 sampai 2022," katanya.

Pj Sekda Mimika, Petrus Yumte mengatakan, Mimika merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Papua Tengah dengan beban TBC yang tertinggi. Ini mengindikasikan penyakit TBC memang telah berkembang di masyarakat. Faskes di kota dam kampung menemukan kasus  TBC.

"Angka keberhasilan pengobatan kita baru mencapai 76 persen dan belum mencapai angka yang diharapkan yakni 90 persen.  Angka putus pengobatan juga masih tinggi hal tersebut menunjukan kepada kita bahwa program penanggulangan TBC di Kabupaten Mimika masih  perlu mendapat dukungan dari semua pihak," katanya. 

Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pelayanan TBC serta mempercepat eliminasi TBC di Mimika yakni perlunya komitmen pelaksana pelayanan, pengambil kebijakan dan pendanaan untuk operasional, bahan serta sarana prasarana.  

Ia mengimbau kepada seluruh masyarakat, sektor terkait dan kalangan swasta dan dunia usaha dan yang paling penting adalah pemerintah kampung agar dapat berpartisipasi untuk sama-sama membentuk dan membiayai kader TBC kampung sebagai pendamping minum obat agar menekan terjadinya putus minum obat. (Faris)