Dinkes Mulai Susun Skenario Antisipasi Jika Covid-19 Memburuk
Ilustrasi Covid-19
Ilustrasi Covid-19

Papua60detik - Peningkatan kasus covid-19 di Jawa dan Bali yang diduga karena varian delta dipastikan berkorelasi ke Kota Timika.

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra menyodorkan data, sejak minggu ke-18 sampai 1 Juli 2021, tercatat sudah lebih 500 kasus covid-19 dan 29 persen di antaranya adalah pelaku perjalanan dengan kontak erat 31 persen.

Kadinkes Papua, dr Arnold Kayame juga menyakini, varian delta yang disebut jauh lebih cepat menular cepat atau lambat bakal sampai juga di Papua.

Sinyalemen lain, belakangan anak-anak mulai banyak terpapar covid-19, berbeda dengan situasi di awal pandemi. Sejak minggu ke-18 sampai 1 Juli 2021 sudah 30 anak usia 0 sampai 10 hari terpapar covid-19. Polanya, kata Reynold, sama dengan apa yang terjadi di Jawa dan Bali sekarang.

Mencermati situasi ini, Dinkes Mimika mulai menyusun skenario jika situasi covid-19 memburuk.

Dinkes mulai menghitung ketersediaan tempat tidur dan tabung oksigen. Jumlah tempat tidur di rumah sakit Tembagapura dan Klinik Kuala Kencana sebanyak 64, RSUD Mimika sebanyak 63. Jumlah itu sudah include ICU dan tempat tidur pasien cuci darah.

"Kami akan memastikan jumlah oksigen, RSUD Mimika itu berapa, RSMM itu berapa , RS Tembagapura dan Klinik Kuala Kencana itu berapa. Kalau kekurangan makan akan kami komunikasikan dengan Pemda dan pihak terkait supaya oksigen tetap tersedia. Skenario itu besok kami akan siapkan, termasuk dengan Puskesmas," ujarnya.

Sekarang Dinkes lagi kejar-kejaran vaksinasi covid-19. Vaksin, terutama dosis pertama kata Reynold, dapat menekan angka kesakitan dan kematian.

Pembatasan aktivitas atau PPKM versi pemerintah pusat tetap diperlukan. Tapi seperti apa kebijakannya, Mimika menunggu keputusan Pemprov Papua.

Ia menggarisbawahi prinsip atau pendekatan pembatasan aktivitas tetap seperti tahun lalu. "Yaitu tenaga kesehatan dan masyarakat tidak boleh terpapar, kemudian ekonomi tidak boleh terkapar dan rakyat tidak boleh lapar," katanya.

Mengantisipasi lonjakan pasien, Dinkes membuat rekayasa. Pasien berat sampai kritis akan diisolasi, pasien gejala ringan sampai sedang isolasi mandiri, sementara kontak erat dikarantina.

Tak tertutup peluang karantina terpusat seperti di wisma atlet dan asrama MSC tahun lalu kembali dilakukan. Soal ini akan diputuskan bersama Forkopimda Mimika.

Tapi berdasarkan pengalaman, isolasi mandiri membuat pasien lebih cepat sembuh karena mendapat dukungan psikologis dan sosial.

"Dukungan dari keluarga tapi tetap diawasi oleh RT, Keluarga, Tenaga Puskesmas saya pikir bisa dilakukan," tutupnya. (Fachruddin Aji)