Ini Sikap Mimika Terkait Bom Bunuh Diri di Makassar
Papua60detik - Menyikapi bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katedral Makassar pada Minggu (28/3/2021), Pemerintah Kabupaten Mimika, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Forkopimda melakukan pertemuan di Kantor FKUB, Senin(29/3/2021).
Semuanya satu suara, mengutuk keras pelaku pengeboman tersebut.
Hadir pada pertemuan itu, Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob, Kapolres Mimka, AKBP IGG Era Adhinata, Dandim 1710 Mimika, Letkol Inf Yoga Cahya Prasetya, Kepala Kejari Mimika, Muhammad Ridosan, Kepala Kantor Kemenag, Adrianus Utler dan Kepala FKUB Mimika, Ignatius Adii.
Pertemuan itu membuat lima poin kesepakatan. Pertama, perhatian dan rasa duka cita atas peristiwa yang mencederai rasa kemanusiaan untuk Bangsa Indonesia.
Kedua, menolak segala bentuk kekerasan dan tindakan anarkis yang mengatasnamakan agama dalam rangka menjaga kesatuan NKRI.
Ketiga, mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Mimika tidak terprovokasi dan tetap menjaga kerukunan, cinta damai dan toleransi antar umat beragama.
Keempat, menjadikan Kabupaten Mimika sebagai daerah yang terdepan dalam perlawanan terhadap paham dan tindakan yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.
Kelima, menolak dan menyerahkan pelaku teroris yang terjadi di Makassar pada penegak hukum untuk penyelesaian secara hukum.
Ignatius Adii mengatakan pembuatan kesempatan ini sangat penting mengingat perayaan Paskah tinggal menghitung hari. Perlu kerja sama dari semua pihak menjaga agar pelaksanaannya berjalan baik. Dan itu bukan hanya menjadi tanggung jawab TNI-Polri saja.
“Intinya bahwa kita di Timika harus serius menyikapi ini karena ada beberapa hal yang perlu kita was-was. Jangan sampai pihak ketiga masuk menggunakan hal ini sebagai dasar mengacaukan, maka perlu antisipasi,” katanya.
John Rettob menyebut kejadian di Makassar adalah perbuatan manusia yang tidak punya hati. Ia meminta masyarakat tidak terpancing dan menyerahkan penanganan kejadian itu kepada pihak berwajib.
“Kejadian ini membuat kita semua terpukul. Tapi mari kita menyikapi ini dengan bijak karena pihak yang berwajib sedang menangani hal ini,” katanya.
Sementara itu, Dandim 1710, Letkol Inf.Yoga mengatakan apa yang terjadi di Makassar itu bukan mewakili sebuah aliran agama.
Menurutnya, tidak ada satu agama pun yang mengajarkan hal-hal yang bersifat ekstrim dan salah. Semua agama mengajarkan kebaikan, cinta kasih dan saling menghormati.
“Di Mimika kegiatan keagamaan selalu berjalan dengan baik. Akan tetapi jangan sampai hal ini menjadi suatu pemicu terjadinya suatu kejadian yang akan membawa kerugian bagi kita semua,” pesannya. (Anti Patabang)