Kemenkes Temukan Bakteri E. coli di Menu MBG Penyebab Keracunan Siswa di Jayapura
Papua60detik - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkap temuan bakteri bakteri E. coli pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan keracunan sejumlah siswa di Kabupaten Jayapura, Rabu 8 Agustus kemarin.
"Begitu itu ada keracunan, tim Kementerian Kesehatan sudah turun. Laporannya sudah ada, hasil labnya juga sudah ada, jadi memang kita identifikasi ada beberapa makanan yang ada bakteri E. coli-nya, bukan hanya semangka tapi ada beberapa makanan lain," kata Menkes Budi Gunadi, Kamis (6/8/2026) seperti dilansir ANTARA.
Kemenkes telah memberikan saran kepada BGN mengenai masalah-masalah yang ditemukan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kepala BGN Sudaryono mengatakan keracunan merupakan hal fatal dan menyangkut nyawa seseorang, sehingga tindakan yang diberikan pun tegas.
"Target saya adalah gimana caranya, apapun caranya, bagaimana caranya, itu kemudian nol. Case keracunannya," ujar Sudaryono.
Dia menyebutkan secara umum penyebab kasus keracunan tersebut seperti masak yang terlalu dini.
"Kalau di Papua kita lihat dari log. Log dapurnya itu kan kita ada sistem lognya, dia kapan persiapan, kapan nyacah, kapan apa, kapan dimasak itu ada. Jadi memang memulai masaknya kecepatan, kalau gak salah jam 7 atau setengah 8 hari sebelumnya untuk diberi makan di hari berikutnya di jam 11," kata Sudaryono.
Begitupun kasus di Semarang, kata dia, dapur MBG mulai masak jam 9 pada malam sebelum pembagian makanan.
Sudaryono juga merespon pertanyaan tentang hukuman pidana bagi dapur yang diduga menyebabkan keracunan, karena selama ini tindak lanjut hanya berupa penutupan atau pemecatan pengelola dapur.
"Ini kan masalah kedisiplinan. Nah ini kita lagi cari formula. Kalau memang ada unsur-unsur lain, ya misalnya ada unsur kesengajaan, sabotase, dan lain-lain, kami tidak segan-segan untuk kemudian diperiksa oleh pihak kepolisian," katanya.
Namun demikian, lanjutnya, ada azas praduga tak bersalah. Dia mencontohkan ada dapur yang sudah benar memasak di jam yang ditentukan, kemudian makanan dibagikan. Tetapi oleh siswa makanan itu dibungkus dan dibawa pulang untuk keluarganya, sehingga keluarganya juga ikut sakit.
"Nah ini bagian dari PR kami, bagaimana mengedukasi," ucap Sudaryono. (Redaksi)