Malaria di Timika Hanya 30 Persen Infeksi Baru
Ilustrasi nyamuk malaria
Ilustrasi nyamuk malaria

Papua60detik - Malaria masih tercatat sebagai salah satu dari penyakit paling banyak di Mimika. 30 sampai 35 persen kunjungan di Puskesmas yang ada di wilayah kota adalah penyakit malaria.

Bahkan di tingkat nasional, Mimika bertengger di rangking satu kabupaten penyumbang paling banyak kasus malaria di Indonesia.

Analisa Dinkes Mimika, kasus malaria dikategorikan dua, kasus infeksi baru dan kambuhan.

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra mengatakan, infeksi baru malaria hanya di angka 30 persen. Sisanya, 30 persen adalah kasus kambuhan.

“Nyamuk semakin banyak di sekitar lingkungan tinggal masyarakat atau tempat dimana masyarakat beraktifitas. Maka di situ peluang digigit makanya terjadi infeksi baru,” jelas Reynold saat ditemui di ruang kerjanya.

Ia menjelaskan, infeksi baru itu berasal dari orang yang sudah sakit. Dimana dalam tubuh orang sakit sudah terdapat gametosit, sehingga ketika darahnya diisap oleh nyamuk, maka gameosit itu yang ditularkan kepada orang sehat.

Sementara kasus malaria kambuhan terjadi ketika pasien tak patuh minum obat. Seharusnya obat malaria harus diminum sampai selesai. Tapi sebagian warga berhenti minum obat yang diresepkan setelah merasa sehat.

“Obat biru masyarakat akan minum sampai selesai, tetapi terutama malaria tersiana, itu masyarakat harus menuntaskan obat coklat. Itu sampai 14 hari. Disinilah yang biasa putus,” ungkapnya.

Reynold menjelaskan kekambuhan terjadi karena secara aseksual parasit malaria terjadi dalam tubuh manusia dan bersembunyi di dalam hati. Dan yang bisa menyembuhkannya hanya meminum obat sampai tuntas.

Ketidak patuhan minum obat inilah yang menyumbang 70 persen kasus malaria saat ini. Dan 30 persennya adalah karena lingkungan yang kotor, perindukan nyamuk tetap masih ada, aktivitas dimalam hari tinggi akhirnya orang tergigit dan terinfeksi malaria.

Ia meminta warga menggunakan lotion anti nyamuk dan pakaian panjang saat berada di luar rumah pada malam hari agar terhindar dari gigitan nyamuk.

“Langkah-langkah yang sudah dilakukan melalui Malaria Center itu sudah banyak sebenarnya. Melakukan kajian-kajian kemudian ada penelitian-penelitian. Tapi kita tetap kembali pada kesadaran masyarakat,” tutupnya. (Anti Patabang)