Melihat Pawai Ogoh-Ogoh Umat Hindu Timika Sambut Tahun Baru Saka
Papua60detik - Wangi dupa semerbak di Pura Mandhira Mihika Mandaloka Timika, Selasa (21/3/2023). Ratusan Umat Hindu Timika berkumpul melaksanakan upacara Tawur Agung Kesanga. Sebelumnya, rangkaian lain Nyepi, Melasti sudah dilaksanakan di pantai.
Di tengah lapangan, tampak patung raksasa atau ogoh-ogoh. Pandita I Made Kembardana menjelaskan, ogoh-ogoh menyimbolkan Bhuta Kala yang menakutkan dan berwujud raksasa.
"Ogoh-ogoh itu simbol kejahatan, makanya mukanya seram. Simbol energi negatif. Itu juga ciptaan Tuhan, kita hormati. kita doakan agar dia tidak mengganggu kita," jelasnya.
Usai diarak di sepanjang jalan depan Pura, ogoh-ogoh itu dibakar sebagai simbol netralisir kejahatan atau energi negatif.
Nyepi sejatinya adalah perayaan menyambut Tahun Baru Saka oleh Umat Hindu. Disebut Nyepi karena dirayakan dengan cara menyepi atau bersepi-sepi.
Jika umat agama lain merayakan tahun baru dengan kemeriahan, Umat Hindu berbeda. Umat Hindu jelas Kembar Dana, menyambut Tahun Baru Saka dengan instrospeksi diri dengan bersepi.
Cara menyepi dengan empat pantangan: tidak menyalakan api berarti tidak masak, tidak bekerja, tidak menikmati hiburan, tidak boleh bepergian ditambah berpuasa 24 jam.
"Merayakan tahun baru, Umat Hindu melakukan penyucian dan pembersihan. Di tahun baru, kita memasuki hari-hari baru dengan meninggalkan hal-hal jahat dan melakukan kebaikan," jelas Pandita Kembardana.
Umat Hindu Timika
Dibanding penganut agama lain, komunitas Umat Hindu Timika terbilang kecil atau minoritas. Jumlahnya di kisaran 300 jiwa.
Menurut Pandita Kembardana, hidup sebagai minoritas tak ada soal. Tak ada rasa minder apalagi berkeceil hati. Baginya, Umat Hindu adalah bagian dari keseluruhan sebagai warga negara dan bangsa Indonesia.
Yang paling penting menurutnya adalah mutu, memberi kontribusi dan bermanfaat bagi semua orang.
"Kita Hindu itu menganggap semua orang saudara karena kitab suci kita mengajarkan begitu. Jadi sesungguhnya kita semua bersaudara. Sama-sama ciptaan tuhan. Mau beda agama kita anggap saudara. Karena hidup harus seimbang, ke Tuhan, ke manusia dan ke lingkungan. Harus harmonis," jelasnya. (Burhan)