Mendorong Pangan Lokal Timika Jadi Menu Alternatif di Meja Makan
Papua60detik - Papua kaya akan sumber daya alam sudah tak terbantahkan lagi. Bukan hanya soal kandungan mineral dan tambangnya. Tanah hingga perairan Papua sangat kaya dan beragam akan bahan pangan.
Tapi persentuhan kebudayaan selalu membuat pergeseran. Pangan-pangan lokal Papua dari jenis umbi-umbian seperti keladi dan ubi atau sagu perlahan digeser beras sebagai menu makanan utama di atas meja makan.
Barangkali itu salah satu motivasi dari Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Mimika mengangkat pamor bahan pangan lokal lewat lomba cipta menu Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) di Gedung Tongkonan, Sabtu (11/07/20).
Lomba Cipta Menu B2SA ini diikuti 18 peserta perwakilan pengurus PKK di tingkat distrik. Setiap peserta menyajikan setidaknya tiga jenis menu. Hasil penilaian juri, Distrik Kuala Kencana jadi juara satu.
Ketua TP PKK Mimika, Kalina Omaleng meminta peserta belajar, meningkatkan dan mengasah keterampilan mengolah bahan pangan lokal.
“Harus lebih tahu di sini dulu, siapa yang sudah ok, sudah menang kita bawa ke provinsi atau pusat,” katanya.
Wakil Ketua I TP PKK Mimika, Susi Herawati Rettob berharap, lewat kegiatan itu, masyarakat khususnya ibu rumah tangga memanfaatkan bahan pangan lokal agar tidak melulu mengandalkan bahan pangan dari luar.
“Supaya bagaimana kita melestarikan pangan lokal yang ada, apalagi dalam masa covid-19 ini. Kita kaya akan umbi-umbian jadi kita bisa menjadikan makanan pengganti” kata Susi.
Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob yang hadir pada acara tersebut berharap pengurus TP PKK Mimika terus berinovasi dan menciptakan menu-menu yang lebih kreatif.
“Jangan bertahan dengan menu makanan pokok yang itu-itu saja, tetapi kita bisa mengubah menu kreasi dari berbagai olahan bahan-bahan lokal seperti jagung, singkong, dan sagu. Dikembangkan menjadi produk buatan PKK Mimika” pesannya.
Ia berharap dengan kegiatan ini dapat berkembang menjadi ajang yang lebih besar. Kalau perlu, menjadi festival yang dapat mendorong kemajuan ekonomi Mimika.
Jika upaya ini digarap serius, bukan tak mungkin di meja makan kita tak melulu tersaji nasi. Tapi bagian hulu mesti diperhatikan, kesejahteraan para petani lokal yang memproduksi pangan lokal ini terutama. (Yunita S)