Mengenang Pater Bert
Papua60detik - Awal Desember, datang kabar duka, Pastor Lambertus Hagendoorn OFM meninggal dunia di Belanda, Rabu (2/12/2020) waktu setempat.
Sapaan akrabnya Pater Bert. Ia lahir di Den Haag, 22 Juli 1942.
Pater memulai perjalanannya di Indonesia sejak 1971 dan kembali ke tanah kelahirannya tahun lalu di bulan Mei. Hampir seluruh waktunya di Indonesia ia habiskan di Tanah Papua.
Pengabdiannya dari sisi religius tak usah ditanya. Pater Bert sudah keliling Tanah Papua menjalankan tugas dan pengabdian sebagai seorang imam Katolik.
Tapi yang perlu dicatat, kiprahnya di lapangan kemanusiaan yang sejatinya tak terpisah dari religi itu sendiri.
Pater Bert menaruh prihatin dan perhatian kepada mereka yang terinveksi HIV. Pada tahun 2002 ia membentuk organisasi Pemuda Indonesia Lawan AIDS (PILA). Lalu mendirikan Yayasan Peduli AIDS (Yapeda) pada 2008.
HIV-AIDS di Papua memang perkara serius. Sampai sekarang, Papua juga Timika masih menjadi daerah endemis HIV-AIDS.
Mereka yang terinveksi bukan hanya harus melawan virus yang belum ada obatnya ini, tapi juga menghadapi stigma atau cap negatif dari masyarakat bahkan dari keluarga terdekat. Tak sedikit yang dikucilkan dari lingkungan keluarga sendiri.
Seorang anggota PILA, Chichi Betaubun bisa jadi referensi bagaimana pelayanan Pater Bert kepada mereka yang positif HIV-AIDS. Chichi adalah salah satu anggota PILA yang sangat dekat dengan Pater Bert.
Paling melekat di ingatan Chichi, Pater Bert tidak segan-segan mengantar langsung pasien positif HIV-AIDS pergi berobat dan bahkan membantu merawat tanpa rasa sungkan.
“Bahwa beliau betul-betul merawat dan mendampingi pasien-pasien itu sampai betul-betul bisa berdiri. Itu makanya dulu kami juga menampung teman-teman positif HIV-AIDS yang ditelantarkan oleh keluarga dan kami kemudian mendirikan panti asuhan Yapeda pada tahun 2008,” kenangnya.
Chichi bercerita, Pater Bert adalah sosok yang tak pandang latar belakang seseorang. Dalam banyak kasus, ia membantu mereka yang berbeda keyakinan dengannya, tanpa membeda-bedakan.
"Itu saya menjadi saksi sendiri, bahwa beliau betul-betul hadir mewartakan pelayanan cinta kasih buat sesama tanpa memandang dia itu siapa,"
Di bidang organisasi, Chici mengenal Pater Bert sebagai pemimpin bijaksana, disiplin dan tertib administrasi. Bagi Chichi almarhum adalah sosok Goodfather buat lembaga dan organisasi.
Chichi menceritakan, dalam organisasi Paterr Bert sangat kritis terhadap hal-hal yang memang menurut pandangannya keliru dan tidak sesuai aturan. Tapi ia juga adalah pribadi lembut, bersahaja dan selalu memberi motivasi agar siapapun berkembang sesuai minat dan bakatnya.
Sejak kembali ke Belanda, komunikasi mereka pun tetap lancar. Bahkan saat Pater Bert masuk rumah sakit Chichi tetap mendapat kabar melalui saudaranya di Belanda. Kabar meninggalnya Pater Bert juga didapatnya langsung dari saudaranya melalui pesan singkat.
Ia masih teringat pesan Pater Bert kepadanya sebelum kembali ke Belanda. Pesannya, tetap menjadi wanita bijaksana, jangan pernah berhenti berbuat kebaikan dan membagikan pengetahuan.
Dan untuk anak PILA, almarhum berpesan untuk tetap berkarya dimanapun berada dan tetap menjadi pribadi kritis yang mewartakan kedamaian di setiap tugas.
Selamat jalan Pater Bert. (Anti Patabang)