Mimika Ekspor 750 Kg Kepiting Ke Malaysia, Jalan Pemulihan Ekonomi?
Papua60detik - Pemerintah Kabupaten Mimika kembali mulai berjalan pada trayek pemulihan ekonomi dengan kegiatan ekspor.
Senin (29/3/2021), Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal didampingi Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob melaunching ekspor 750 kilogram kepiting tujuan Malaysia milik UD Harapan Nurdiana Jaya di Bandara Udara Mozes Kilangin.
Pengirimannya menggunakan cargo penerbangan maskapai Garuda Indonesia dan didukung Bank Indonesia (BI) perwakilan Papua.
Johannes Rettob dalam sambutannya mengatakan ekspor ini merupakan komitmen Diperindag Provinsi Papua, BI, Bea Cukai, Krantina dan Garuda Indonesia untuk kembali menumbuhkan perekonomian setelah terpuruk karena pandemi covid-19, menekan inflasi dan membuat program Pace Juara bisa berjalan maksimal di Kabupaten Mimika.
“Hari ini kami harap Wagub bisa memberikan peningkatan secara continue secara terus menerus, berikan semangat kepada kami semua agar hari ini ada kurang leboh 750 kg yang akan kami kirim ke Malaysia,” katanya.
Ekspor seperti ini bukan kali pertama. Eksportir di Kabupaten Mimika seperti UD Putri Desi dan UD Harapan Nudiana Jaya sudah rutin melakukannya ke beberapa negara seperti Malaysia, Cina dan Singapura.
Namun karena adanya aturan baru Karantina di Tahun 2019 lalu, ekspor ini sempat berhenti dan kembali dilakukan di 2020 tapi tidak selancar tahun-tahun sebelumnya karena pandemi.
Wabup mengatakan dengan dukungan dan kehadiran Wagub akan lebih memotovasi esportir untuk semakin percaya diri untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas eskpornya.
“Dengan terus bersama-sama BI kita bisa memulihkan ekonomi di Kabupaten Mimika secara khusus,” tuturnya.
Wagub Papua, Klemen Tinal mengatakan akan terus memberi dukungan untuk peningkatan ekonomi di Kabupaten Mimika dan semua kabupaten/kota di Provinsi Papua khususnya untuk ekspor.
Klemen berharap ekspor ini bisa memberi nilai tambah bagi mama-mama Papua. Jika harga jual di pasar Timika Rp5 ribu, maka harga ekspornya harus lebih mahal, misalnya Rp15 ribu.
“Itu baru hebat. Berarti ada nilai tambah yang berubah. Kalau masih 5 ribu berarti tidak ada yang berubah. Hanya jarak yang bertambah. Berarti kita masih lao-lao,” pungkasnya. (Anti Patabang)