Mimika Mulai Krisis Tempat Tidur dan Oksigen
Papua60detik - Kasus positif covid-19 di Kabupaten Mimika terus saja naik setiap hari. Senin (12/7/2021) kemarin terjadi penambahan 88 kasus positif.
Soalnya bukan hanya bertambahnya kasus, tapi pasien dengan gejala berat sampai kritis ikut bertambah. 46 orang dirawat di RSUD, 21 orang di RS Tembagapura dan 5 orang di Klinik Kuala Kencana.
Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra mengakui kapasitas tempat tidur di RSUD saat ini sudah terbilang kritis. Dari 63 tempat tidur yang tersedia kini tersisa 17.
“Tiga hari ini terjadi peningkatan jumlah orang yang dirawat di rumah sakit,” katanya saat ditemui di Hotel Grand Mozza Timika, Selasa (13/7/2021).
Masalah bukan hanya di Bed Occupancy Rate (BOR) yang sudah semakin menipis. Pemerintah kata Reynold harus memikirkan ketersediaan oksigen. Mereka yang dirawat di rumah sakit adalah pasien dengan gejala berat dan pasien kritis yang butuh bantuan oksigen.
Semakin bertambahnya pasien kritis membuat tempat tidur yang digunakan untuk hari rawat makin lama terpakai. Rata-rata pasien kritis harus dirawat di atas 14 hari. Begitupun dalam penggunaan oksigen, pasien kritis lebih banyak membutuhkan bantuan oksigen.
Berdasarkan hitungan medis, katanya, satu pasien kritis membutuhkan empat tabung oksigen dalam 1x24 jam.
“Nah, bayangkan kalau 5 orang atau 10 orang hari itu berarti akan menggunakan 40 tabung. 40 tabung ini untuk sehari,” tuturnya.
Sementara produksi oksigen di Mimika hanya bisa sampai 30 tabung per hari. Atas hitungan itu, ia mengatakan Mimika tergolong krisis oksigen medis.
“Kalau 30 tabung kan berarti hanya bisa untuk sekitar 2 sampai 3 orang saja,” katanya.
PT Freeport Indonesia memang sudah membantu sebanyak 70 tabung oksigen. Namun menurutnya, jumlah itu jauh dari cukup memenuhi kebutuhan di RSUD Mimika.
Dan saat ini RSUD Mimika memiliki 1.000 tabung oksigen kosong, hanya saja untuk mengisi ulang dalam kondisi seperti saat ini tidak mungkin. Pabrik oksigen di Mimika hanya satu, sementara dalam proses isi ulang dibutuhkan waktu lebih dari 12 jam.
Untuk memenuhi kebutuhan oksigen ini, Reynold mengusulkan untuk mengkonversi gas industri PTFI menjadi gas medis.
“Memang ada langkah-langkah yang Freeport bantu, contoh gini oksigen dikirim dari Surabaya ke Timika. Siap difasilitasi oleh Freeport. Tapi pasien setiap hari ada bertambah, sehingga kita tidak bisa menunggu. Yang hari ini bisa dilakukan adalah mengkonversikan oksigen industri ke gas medis,” terangnya.
Ia meyakini hal ini bisa berjalan di tangan ahli. Jika berhasil, sisa surat persetujuan dari Dinkes terkait penggunaan gas industri yang dikonversikan ke gas medis dengan pertimbangan kondisi darurat. (Anti Patabang)