Mimika Waspada Fenomena La Nina
Papua60detik - Mengantisipasi fenomena La Nina, seluruh unsur Forkopimda menggelar Apel Siaga Bencana Alam di lapangan eks Pasar Swadaya, Kamis (12/11/2020).
Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob yang memimpin apel mengatakan, Mimika harus bergerak cepat mempersiapkan diri mengantisipasi cuaca ekstrim La Nina. Hal ini dilakukan sesuai amanat Undang-undang nomor 24 tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana.
Fenomena La Nina merupakan kondisi anomali suhu permukaan laut Samudera Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang lebih dingin daripada kondisi normal.
Laman resmi BMKG melansir, hingga akhir September 2020, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan terjadinya perkembangan anomali iklim La-Nina.
Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur dalam kondisi dingin selama enam dasarian terakhir dengan nilai anomali telah melewati angka -0.5°C, yang menjadi ambang batas kategori La Nina.
"Perkembangan nilai anomali suhu muka laut di wilayah tersebut masing-masing adalah -0.6°C pada bulan Agustus, dan -0.9°C pada bulan September 2020," sebut Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal.
Selain itu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Mimika juga telah menyatakan curah hujan tinggi saat ini disebabkan fenomena La Nina yang terjadi di samudera pasifik di sebelah barat.
"Curah hujan di Mimika tertinggi terjadi pada bulan Juni, Juli hingga Agustus. Namun karena efek dari fenomena La Nina, curah hujan masih cukup tinggi terjadi hingga saat ini," ungkap Wabup John.
Fenomena La Nina akan terus meningkat hingga akhir 2020. Kabupaten Mimika sendiri, diperkirakan terkena dampak La Nina pada Desember 2020 hingga Februari 2021.
Peningkatan akumulasi curah hujan akibat La Nina berpotensi menjadi pemicu terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang dan gelombang yang tinggi.
Oleh karena itu pemerintah mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya, membersihkan parit dan kali/sungai dari sampah, menyiapkan penghambat air banjir (kantong pasir), dan pengelolaan tata air terintegrasi dari hulu ke hilir.
"Bagi masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir, sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap dan selalu waspada. Bahkan yang tinggal di bantaran sungai agar tetap waspada dan tidak membuang sampah serta menjaga kebersihan sungai," ujarnya.
Selain itu, perlu meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan, membentuk tim relawan penanggulangan bencana pada setiap RT/RW secara mandiri, dan memantau terus informasi musim hujan terkini melalui media info BMKG.
"Pengecekan sumber daya manusia dan peralatan yang dimiliki oleh setiap instansi, sehingga siap digunakan ketika terjadi hal yang tidak diinginkan," pesannya. (Salmawati Bakri)