Pelni Timika: Pelabuhan Pomako Serba Hancur

- Papua60Detik

Pelabuhan Pomako Timika. Foto: Eka,/ Papua60detik
Pelabuhan Pomako Timika. Foto: Eka,/ Papua60detik

Papua60detik - Kepala Cabang Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Timika Rachmansyah Chaidir menyebut Pelabuhan Pomako Timika serba amburadul. 

Menurutnya, kota Timika yang merupakan incaran para pendatang atau perantauan harusnya mempunyai pelabuhan layak. 

"Dari mulai awal menjabat saya pertama kali berkunjung ke KUPP Syahbandar setempat untuk menanyakan progres pembangunan terminal penumpang di pelabuhan Pomako ini. Saya lihat ini mungkin satu-satunya pelabuhan di Indonesia yang tidak ada terminal penumpang. Pelabuhan lain, lengkap semua," ujar Rachmansyah, Senin (15/4/2024). 

Katanya, tata cara masuk penumpang ke pelabuhan biasanya teratur. Saat pemeriksaan tiket bisa dilakukan di terminal penumpang.

"Tapi di sini (Pomako) tidak begitu, sampai sekarang saya lihat tidak ada perkembangan. Alasannya masalah tanah ataupun lahan yang masih tergantung sampai sekarang yang katanya tunggu hibah bahkan masih ada masalah tanah dengan pemilik lahan aslinya," terang dia. 

Hal itu dia bandingkan dengan bandar udara yang bisa pemerintah buat dengan bagus, padahal menurutnya bandar udara bukanlah pusat perekonomian. 

"Pesawat itu tidak bawa kontainer, yang bawa kontainer itu ya kapal. Kita kasihan terhadap masyarakat terutama juga penumpang, mereka perjalanan jauh dari kota baru dihadapkan dengan kondisi tidak ada terminal penumpang untuk mereka berteduh, fasilitas MCK juga tidak ada, miris dan sedih lihatnya, belum lagi kalau kondisi hujan," paparnya. 

Tak hanya itu, dermaga pelabuhan Pomako hanya memiliki panjang 220 meter yang cukup dibuat sandar dua kapal. Sehingga jika ada kapal mau bersandar harus menunggu giliran. Bahkan ada yang harus berlabuh di tengah muara. 

"Pokoknya serba hancur sudah ini pelabuhan Pomako, jalannya juga hancur, bandingkan dengan jalan masuk bandara. Ini pelabuhan seperti dianaktirikan," tegas dia. 

Berdasarkan pantauan Papua60detik.id, masyarakat setempat juga memanfaatkan momen kedatangan kapal putih milik Pelni, mereka berdiri di depan gerbang masuk pelabuhan dengan menadahkan kardus supaya orang datang mengisinya. 

Tak jauh dari gerbang, jalanan menuju dermaga terlihat rusak dan berlubang parah. Jika hujan deras, genangan air menutupi lubang dan membahayakan yang lewat. Sampai di jembatan dermaga, di sisi kiri dan kanan terlihat pedagang kaki lima menjamur, yang harusnya itu menjadi area steril. Bahkan dalam kawasan dermaga pun terdapat rumah-rumah masyarakat. 

Ruang tunggu pelabuhan pun tak difungsikan, sepanjang jembatan di atas dermaga orang mengantri panjang rela berdesakan untuk dapat masuk ke kapal. Keluar masuknya penumpang pun tak diatur dengan baik. Saat tangga naik kapal baru dibuka, masyarakat langsung saling serobot bahkan tanpa memperhatikan keselamatannya. 

Salah satu penumpang KM Tatamailau, Susan saat hendak naik kapal harus menunggu sepi. Dia rela berdiri lebih dari satu jam untuk bisa naik kapal. 

"Masih rame dan berdesakan, nanti tunggu sepi dulu baru naik, karena barang bawaan juga cukup banyak," katanya. 

Katanya, dia datang sekitar satu jam sebelum kapal tiba, saat datang dia langsung menuju ke dermaga, karena bingung tak ada tempat untuk menunggu. 

"Takutnya ketinggalan kapal kalau saya tunggu di luar, jadi sudah saya di sini saja," jelasnya. 

KM Tatamailau sendiri, berlayar menuju Tual Maluku dan pemberhentian terakhir di Bitung Sulawesi Utara, kapal tersebut berlayar dari Merauke. (Eka)




Bagikan :