PT Freeport Akui Sebabkan Pendangkalan di Pesisir Mimika
VP Environmental PT Freeport Indonesia (PTFI) Gesang Setyadi. Foto: Burhan/ Papua60detik
VP Environmental PT Freeport Indonesia (PTFI) Gesang Setyadi. Foto: Burhan/ Papua60detik

Papua60detik - VP Environmental PT Freeport Indonesia (PTFI) Gesang Setyadi mengakui sisa pasir tambang atau tailing telah menyebabkan pendangkalan di wilayah pesisir Mimika.

Gesang mengatakan, terjadinya pendangkalan itu sudah diprediksi di dalam AMDAL operasi tambang PTFI.

"Memang tailing PT Freeport ini di AMDAL diprediksi sebagian akan mengalir ke muara dan laut dan diprediksi akan menimbulkan pendangkalan," katanya di Kuala Kencana, Jumat (10/6/2022).

Dampak pendangkalan ini paling dirasakan oleh masyarakat di wilayah pesisir timur Mimika yang menggunakan perairan sebagai tempat mencari nafkah dan jalur transportasi.

Mengurangi dampak pendangkalan, Gesang mengklaim PTFI sudah dan sedang melakukan banyak upaya. Misalnya menyediakan fasilitas dan layanan publik agar masyarakat di wilayah pesisir timur Mimika tak perlu melakukan perjalanan ke Kota Timika.

"Memang ada dampak, tapi Freeport juga melakukan upaya-upaya yang aktif agar masyarakat tidak terpengaruh oleh sedimentasi tapi mempunyai kegiatan ekonomi lain," kata Gesang.

Beroperasi puluhan tahun, tailing PTFI yang mengalir tiada henti dari Tembagapura bahkan telah membentuk dataran-dataran baru di wilayah muara pesisir Mimika.

Dataran-dataran baru yang terbentuk dari sedimentasi tailing itulah kemudian yang ditanami mangrove oleh PTFI.

"Memang akan terus terjadi. Akan ada tambahan dataran-dataran baru. Yang tadinya mungkin batasnya segini ya, nanti akan terus maju, maju ke depan. Nah, nanti itu akan ditanami mangrove," katanya.

Saat ini PTFI sedang berupaya membentuk sedimentasi tailing lebih banyak di bagian muara. Prinsipnya kata Gesang, semakin banyak sedimen terkumpul, mangrove yang bisa ditanam lebih banyak. Upaya ini melibatkan beberapa ahli dari perguruan tinggi ternama seperti IPB dan Undip.

PTFI menarget, menanam mangrove 10.000 hektar sampai tahun 2041.

"Sekarang sebagian sudah jadi hutan," kata Gesang. (Burhan)