PT Freeport Mulai Produksi Gas Medis Konversi Buat Pasien Covid-19
Papua60detik - Rencana PT Freeport Indonesia mengonveri gas industri ke gas medis untuk membantu fasilitas kesehatan di Mimika akhirnya berhasil.
Setidaknya krisis oksigen yang dikhwatirkan saat peningkatan pasien covid-19 gejala berat dan kritis kini sudah punya solusi.
Untuk memenuhi syarat konversi gas industri ke medis, PTFI mengirim sampel ke PT Surveyor Indonesia di Jakarta. Sekitar sembilan parameter yang harus dipenuhi. Semua proses telah dikoordinasikan denga Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika.
Material utama dalam pembuatan gas ini adalah udara bebas. Sehingga produksi akan dipengaruhi kondisi cuaca.
Jumat (30/7/2021), PTFI telah menyerahkan 50 tabung refill ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM).
Penyerahan oksigen ini merupakan batch kedua. Sebelumnya telah diserahkan enam tabung pertama ke pihak RSMM juga.
Perwakilan Supply Chain Managemen (SCM) PTFI, Dani Hamdani menjelaskan, mengonversi gas industri ke gas medis tidak semudah membuat jus. Proses konversi ke gas medis katanya terbilang kompleks. Apalagi pabrik PTFI masih menggunakan teknologi lama.
“Terus terang saja, saya secara pribadi dan juga teman-teman yang terlibat di dalam penanganan ini cukup bangga, karena ini lebih kepada penanganan yang sifatnya kemanusiaan. Jadi hal-hal sifatnya lain kami nomor duakan dan kami utamakan ini sebagai yang pertama,” katanya.
Ia mengatakan dalam penyediaan gas ini, divisi SCM akan bertugas, pertama selalu mastikan stok gas medis untuk memenuhi kebutuhan di setiap fasilias kesehatan yang membutuhkan.
Kedua, bertanggung jawab untuk menjaga kelangsungan operasional dan memastikan bahan baku yang diperlukan oleh pabrik.
“Termasuk juga kami harus menyakinkan, karena kebetulan memang pabrik ini adalah pabrik tua, sehingga kami harus pastikan suku cadang yang diperlukan untuk penggantian bisa tiba pada waktunya dengan jumlah yang sesuai dan juga kualitas yang baik," kata Dani.
Ia mengatakan produksi gas medis tergantung permintaan fasilitas kesehatan. Produksi akan dilakukan jika ada tabung gas oksigen kosong yang dikirim dari fasilitas medis yang butuh.
Sementara itu, Diterktur RSMM, dr Joni R Tandisau mengatakan kehadiran produksi oksigen konversi PTFI ini sangat membantu mereka. Selama Juli ini, kebutuhan oksigen RSMM setiap harinya bisa sampai 50 tabung, sementara produksi rumah sakit hanya 18 per hari.
“Terima kasih, mudah-mudahan tidak berhenti sampai disini. Karena memang kami sangat butuh. Kami harapkan bisa terus berlanjut. Karena ini adalah jalan satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan oksigen di rumah sakit saat ini,” katanya. (Anti Patabang)