PT Freeport Target Smelter di Gresik Rampung 50 Persen Tahun ini
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas. Foto: Burhan/ Papua60detik
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas. Foto: Burhan/ Papua60detik

Papua60detik - PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan pembangunan smelternya mencapai 50 persen tahun ini.

Saat ini, progres smelter PTFI yang dibangun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik baru mencapai 21 persen dengan anggaran sekitar US$750 juta.

"Diharapkan akhir tahun ini sampai 50 persen dengan biaya US$1,6 miliar atau sekitar 22 triliun rupiah," kata Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas di Timika, Selasa (5/4/2022).

Kewajiban pembangunan smelter tertuang dalam Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang menjadi bagian tak terpisahkan dari izin keberlanjutan operasi PTFI hingga 2041.

Nilai investasi smelter PTFI mencapai 42 triliun rupiah. Dibangun di atas lahan seluas 100 hektar dengan kapasitas desain 1,7 juta ton konsentrat per tahun.

Dalam pembangunannya, PTFI menggandeng PT Chiyoda International Indonesia untuk melakukan pekerjaan engineering, procurement dan construction (EPC) di tahap konstruksi. 

PTFI tak membangun smelter di Papua karena dua alasan. Pertama, pabrik smelter selain memurnikan konsentrat juga menghasilkan produk lain, seperti asam sulfat dan terak tembaga.

Di Gresik berdiri pabrik Petrokimia yang membutuhkan asam sulfat dan terak tembaga untuk produksi pupuk.

Alasan kedua, operasi smelter membutuhkan daya listrik besar. Di Papua, fasilitas pembangkit yang demikian belum tersedia.

"Karena dia menguraikan katoda dan anoda. Dan itu membutuhkan listrik sangat besar. Setahu saya belum ada fasilitas listrik (di Papua) yang bisa menjalankan pabrik sebesar itu," kata Vice President Corporate Communications PTFI, Riza Pratama. (Burhan)