Soal Belajar Tatap Muka, Dinkes Mimika Minta Waktu Mengkaji
Papua60detik - Rencana belajar tatap muka yang sudah bisa dimulai pada awal 2021 mendatang nampaknya benar-benar perlu persiapan dan pertimbangan matang.
Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra mengatakan, belajar tatap muka kesiapannya harus dari semua aspek, mulai dari penyelenggara pendidikan, komite sekolah dan orang tua.
Soal kesiapan di Mimika sendiri, ia meminta waktu mengkaji proporsi kasus pada anak-anak yang sudah pernah terkonfirmasi covid-19. Menurutnya, perlu melihat kasus covid-19 pada anak sekolah hanya sporadis atau sudah masuk kategori klaster penularan.
Ia menjelaskan, klaster penularan terjadi ketika orang berkerumun dan saling berkontak erat. Sedangkan kasus sporadis tidak punya hubungan dengan klaster penularan tertentu.
“Jadi nanti kita coba mengkaji dari kumulatif total jumlah kasus saat ini pola pada anak sekolah itu seperti apa. Saya pikir kami harus mengkaji,” kata Reynold, Rabu (2/12/2020).
Menurutnya, kegiatan belajar mengajar di masa new normal memang terlihat sederhana namun kenyataannya tidak efisien. Biaya yang dikeluarkan lebih banyak.
Sebagai contoh, tadinya anak pergi sekolah cukup bawa uang jajan. Tapi di masa new normal, ke sekolah harus dengan masker dan face shield. Sekolah pun harus menyiapkan sarana cuci tangan.
“Tidak hanya sebatas sarana cuci tangan, tapi kepadatan dalam sekolah. Itukan kelas harus diatur karena dalam kelas itu hanya 50 persen. Jadi memang kajiannya sangat ketat dan banyak hal yang harus diperhatikan,” jelasnya.
Ia pribadi sangat senang jika sekolah kembali dibuka. Namun sekolah harus membuat simulasi dan menyusun skenario serta SOP untuk melindungi siswa, pengajar dan masyarakat dari covid-19.
“Kayak misalnya kami Puskesmas, kami mulai mendesain untuk mengantisipasi jangan terjadi penularan di Puskesmas,” tutupnya. (Anti Patabang)