Soal Kelangkaan Pupuk, Anggota DPR RI Ungkap Mafia Korporasi
Papua60detik - Anggota DPR RI, Sulaeman L Hamzah mengungkapkan sejumlah masalah kelangkaaan pupuk di Indonesia, termasuk juga yang dirasakan petani Merauke, Papua.
Kepada Papua60detik, Jumat (11/3/2022), Sulaeman L Hamzah melalui telpon mengatakan, salah satu penyebab kelangkaan pupuk karena adanya kecurangan atau permainan sejumlah pihak, seperti korporasi.
"Pupuk jadi masalah nasional. Komisi IV hampir tiap minggu membahas tentang pupuk. Ternyata memang ada mafia dan kecurangan yang cukup besar," kata Sulaeman.
Legislator dari Papua itu membeberkan, ada sejumlah korporasi yang memanfaatkan kelompok tani yang terdaftar untuk menjadi penerima. Lantas para petani ini dikantongi kartu tani, sehingga bisa mengambil jatah pupuk subsidi.
"Setelah satu tahun kontrak, petani pergi (putus kontrak). Nah di situ mereka manfaatkan kartu tani yang ada untuk penebusan pupuk, lalu dijual ke tempat lain. Ini dilakukan oleh usaha besar," ungkapnya.
Contoh kasus itu, sebut Sulaeman, terjadi di Jawa Timur, juga di Jawa Barat. Ada sejumlah perusahaan besar, menggunakan karyawan kontrak yang notabene petani untuk menebus pupuk subsidi, kemudian dijual lagi ke tempat lain.
"Itu kejadian kemarin yang sudah dibongkar dan terbuka luas. Seperti begitu akal-akalan korporasi, Mudah-mudahan di Merauke tidak ada," tuturnya.
Ia juga mengungkapkan, masalah kelangkaan pupik mengundang kemarahan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Sebab subsidi dana 32 triliun untuk pupuk tidak memberikan hasil yang signifikan.
"Setelah ditelusuri memang salah satu penyebabnya kejadian tadi, lalu juga masalah lain di daerah yang ternyata pelayanannya makin hari makin rusak," ujar dia.
Sulaeman pun berjanji akan kembali mendorong masalah pupuk di Komisi IV, sehingga petani, termasuk di Merauke bisa memenuhi kebutuhannya serta meningkatkan produksi gabah.
"Insya Allah saya akan lakukan dengan cara yang pernah kami lakukan untuk petani Merauke pada 2018-2019 lalu. Saat itu pasokan pupuk kembali normal," imbuhnya. (Eman Riberu)