TGPF Kasus Intan Jaya Bertolak ke Lokasi Penembakan
Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) di Bandara Mozes Kilangin sebelum bertolak ke Kabupaten Intan Jaya.
Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) di Bandara Mozes Kilangin sebelum bertolak ke Kabupaten Intan Jaya.

Papua60detik -Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus Intan Jaya, bertolak ke lokasi penembakan di Kabupaten Intan Jaya, Kamis (08/10/2020) setelah sehari sebelumnya transit di Timika.

Tim yang dibentuk langsung oleh Menko Polhukam, Mahfud MD ini ditugaskan untuk mencari fakta-fakta penembakan yang menewaskan dua anggota TNI, dua warga sipil yang salah satunya pendeta pada September lalu.

"Kami hari ini bergerak menuju Sugapa untuk mulai mengambil keterangan-keterangan kasus penembakan di Intan Jaya," kata Ketua TGPF, Benny Mamoto saat ditemui di Hotel Horison, sebelum menuju ke Terminal Bandara Mozes Kilangin, Kamis pagi.

Tim yang dipimpin Benny Mamoto berjumlah 18 orang. Tim beranggotakan unsur tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat dan akademisi.

Sebelumnya, TGPF telah menyusun rencana kegiatan untuk mengusut kasus penembakan di Intan Jaya, Papua. TGPF menegaskan pihaknya akan menjawab kesimpangsiuran informasi terkait peristiwa yang menewaskan dua anggota TNI dan dua warga sipil ini.

"Terhitung terbitnya SK, kami langsung bekerja untuk menyusun rencana kegiatan pengumpulan data dan informasi lapangan. Karena tugas kami sebagai tim investigasi lapangan. Kami sudah menyusun rencananya dan segera mungkin kami bergerak," kata Ketua TGPF Intan Jaya, Benny Mamoto dalam rapat di Kemenko Polhukam yang disiarkan melalui chanel YouTube Kemenko Polhukam, Senin (05/10/2020) lalu.

Benny menegaskan timnya akan mengungkap kasus ini secara terbuka. Serta menjawab kesimpangsiuran informasi terkait penembakan ini.

"Kami ingin membuat terang peristiwa ini, itu kuncinya. Kami ingin membuat terang peristiwa ini dari kesimpangsiuran informasi yang beredar saat ini," jelasnya.

Situasi keamanan di Intan Jaya memang memanas sejak September lalu. Bahkan seorang pendeta tewas ditembak.

Pada Senin (14/09/2020), dua warga sipil di Distrik Sugapa Kabupaten Intan Jaya tertembak. Keduanya selamat dan saat ini dirawat di Timika.

Tiga hari kemudian, Kamis (17/09/2020) seorang tukang ojek, Baidlawi dibacok menggunakan parang hingga lengan kirinya putus. Karena pendarahan hebat, korban akhirnya tewas di tempat.

Di hari yang sama, Serka Sahlan Babinsa Ramil 1404-06 yang sedang dalam perjalanan membawa logisti ditembak dan dibacok. Satu pucuk senjata laras panjang miliknya dilaporkan hilang.

Kemudian, kasus penembakan yang menewaskan prajurit TNI bernama Pratu Dwi Akbar dan Pendeta Yeremia pada Sabtu (19/9/2020).

Pratu Dwi Akbar tewas setelah terlibat kontak tembak dengan kelompok sipil bersenjata.

Sementara Pendeta Yeremia Zanambani meninggal dunia setelah ditembak di Kampung Hitadipa, Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya. Kematian tokoh agama paling disegani di Intan Jaya itu kemudian berujung polemik saling tuduh antara TNI dengan TPNPB-OPM.

Kekerasan bersenjata kembali terjadi pada Rabu (07/10/2020), seorang pewarta Gereja Katolik, Agustinus Duwitau dilaporkan tertembak. (Salmawati Bakri)