101 Anak Kena Stunting di Kwamki Narama
Papua60detik - Upaya menekan angka stunting, Distrik Kwamki Narama melaksanakan rembuk stunting tahun anggaran 2025, Rabu (19/11/2025).
Data terbaru, ada 101 anak yang mengalami stunting tersebar di 9 kampung. Yaitu: Kampung Amole: 21 anak, Kampung Landun Mekar: 13 anak, Kampung Olaroa: 12 anak, Kampung Lamopi: 12 anak, Kampung Mekurima: 12 anak, Kampung Walani: 12 anak, Kampung Harapan: 7 anak, Kampung Damai: 6 anak, Kampung Tunas Matoa: 3 anak, Kampung Bintang Lima: 3 anak.
Angka ini termasuk memprihatinkan, sehingga Distrik Kwamki Narama berkomitmen untuk terus melakukan berbagai program intervensi yang lebih fokus dan terarah di setiap kampung.
Staf Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung, Orly Simanjuntak yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut mengatakan, setiap OPD harus melihat program prioritas yang paling dibutuhkan bukan sebatas seremonial. Pemerintah dari tingkat distrik hingga kampung dan OPD terkait harus turun lapangan dan membuat program sesuai kasus kasus yang dialami masyarakat.
"Ada orang tua yang tidak mengizinkan anaknya diimunisasi, ada anak yang berumur 12 tahun sudah hamil. Berarti yang diperlukan di situ adalah penyuluhan dan pendampingan. Jadi kita harus turun ke lapangan melihat kasus-kasus yang dihadapi masyarakat," ujar Orly.
Selain itu, sangat diperlukan kolaborasi program bukan hanya mengandalkan dana desa. Karena menurutnya, setiap OPD terkait sudah mengalokasikan anggaran untuk penurunan stunting yang merupakan program prioritas. Dengan kolaborasi, tidak ada lagi tumpang tindih program dan tepat sasaran.
Kepala Puskesmas Kwamki Narama, dr Armin Ahyudi yang menjadi narasumber, menjelaskan Puskesmas hanya berperan 30 persen dalam penurunan angka stunting, dan 70 persen lainnya dilakukan oleh pemerintah dan kolaborasi seluruh stakeholder.
Katanya, Puskesmas telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah stunting, mulai dari pemeriksaan anemia pada remaja putri hingga pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita. Program-program ini akan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing kampung.
Selain itu, Puskesmas juga memberikan perhatian khusus pada ibu hamil dengan melakukan pemeriksaan kehamilan sebanyak 6 kali, termasuk 2 kali dengan dokter. Ibu hamil juga dianjurkan mengonsumsi 90 tablet tambah darah selama 3 bulan.
"Sangat penting memantau tumbuh kembang di Posyandu, pemberian ASI eksklusif hingga usia 6 bulan, dan pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita usia 12-32 bulan. Balita dengan gizi buruk akan dirujuk ke rumah sakit," terangnya.
Kepala Distrik Kwamki Narama, Edwin berharap gagasan yang melibatkan kepala kampung, kelurahan dan stake holder ini, dapat memperkuat komitmen bersama untuk menekan angka stunting.
"Kita sudah melihat dan membuat pernyataan. Mari kita membagi-bagi tugas, agar semakin ringan. Kalau cuma satu dan dua orang yang bekerja, itu pasti tidak berhasil. Kita harus berkolaborasi agar di 2026 angka ini menurun," pungkasnya. (Martha)