Bagaimana SATP Membentuk Karakter Siswanya?
Kepala SATP, Sonianto Kuddi, foto: Martha/ Papua60detik
Kepala SATP, Sonianto Kuddi, foto: Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Selain fokus pada pencapaian akademik, Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) milik Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) selaku pengelola dana kemitraan PTFI mengedepankan pendidikan karakter sebagai peran utama dalam proses pembelajaran. 

Kepala SATP, Sonianto Kuddi menjelaskan, pendidikan karakter menjadi prioritas utama yang diterapkan secara menyeluruh melalui rutinitas harian siswa, baik di asrama maupun di sekolah.

Misalnya, dalam aktivitas sehari-hari, saat siswa berangkat dari asrama ke sekolah, semua diwajibkan berjalan berbaris rapi dengan sistem one line hand at back untuk menjaga ketertiban dan melatih kedisiplinan. Hal itu mempermudah pengawasan dengan jumlah siswa SD dan SMP yang mencapai 1.170 orang. 

Setiap hari ada apel pagi dan doa bersama, setelah itu per kelas tampil ke depan untuk menyanyi bahasa Inggris sekaligus menambah kosa kata. 

"Pendidikan karakter itu adalah hal yang nomor satu kami lakukan di sini. Contoh, di asrama itu mereka bangun pagi. Itu adalah pendidikan karakter. Semua harus bangun pagi kemudian mereka lipat selimut. Itu wajib, mereka harus disiplin," ujar Sonianto saat diwawancarai beberapa waktu lalu. 

Sonianto menambahkan, setelah apel pagi, siswa mengikuti sesi meditasi selama 15 menit di dalam kelas. Program ini diterapkan supaya siswa bisa menenangkan pikiran, mengontrol emosi, serta mempersiapkan diri secara mental sebelum mengikuti pembelajaran.

"Meditasi di dalam kelas di pagi hari itu adalah pendidikan karakter. Bagaimana mengontrol diri dengan baik. Apa hubungan saya dengan Tuhan, itu penting untuk memulai semuanya," tambahnya. 

Pendidikan karakter juga berlanjut hingga sore hari melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ini wajib diikuti sesuai minat siswa. Setiap kehadiran akan dicatat dan akan diberikan konsekuensi terhadap pelanggaran. 

SATP milik Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro selaku pengelola dana kemitraan PTFI, menerapkan larangan penggunaan telepon genggam bagi siswa. Aturan ini bertujuan melatih disiplin waktu serta mengantisipasi siswa dari pengaruh negatif dari pengunaan HP. 

Selain itu, SATP juga menyediakan pendampingan psikolog dan psikiater bagi siswa yang membutuhkan, mengingat perbedaan besar antara kebiasaan anak di luar dan di dalam asrama. 

Dalam pendampingan, SATP melibatkan karyawan dari suku Amungme dan Kamoro yang tahu betul tentang budaya siswa. Dengan begitu, sekolah bisa mengkombinasikan psikologi, rohani, dan budaya si anak, kemudian dihubungkan dengan sains.

"Nantinya, anak-anak ini bisa terbuka pikirannya bahwa ini saya lakukan untuk Tuhan, untuk masyarakat, untuk masa depan saya. Jadi pendidikan karakter itu hal yang paling penting dan utama di sini," pungkasnya. (Martha)