Cerita Tim PE Membendung Laju Penularan Covid-19 di Timika
Rapid test massal kepada para pelanggar protokol kesehatan di Pasar Sentral Timika
Rapid test massal kepada para pelanggar protokol kesehatan di Pasar Sentral Timika

Papua60detik - Ini cerita tentang mereka yang bekerja di balik layar. Mereka turun lapangan, mencatatnya detil, lalu menghitung dan menganalisa dengan teliti.

Sekali waktu, di malam hari, mereka pernah muncul di video conference. Sekali itu saja, lalu kembali ke belakang panggung.

Mereka adalah Tim Penyelidikan Epidemiologi Gugus Tugas Percepatan Pengendalian Covid-19 Kabupaten Mimika. Tugas utamanya, membongkar gunung es sekaligus membendung laju penularan covid-19.

Sehari-hari bekerja melacak kontak erat setiap pasien positif covid-19. Mereka yang berhasil dilacak kemudian dianalisa, dikategorikan dalam status ODP, PDP dan OTG lalu dirujuk ke pemeriksaan PCR.

Jika hasil PCR-nya positif, tim penyelidikan epidemiologi kembali turun melacak kontak eratnya. Menemukannya sebanyak mungkin. Pola kerja demikian terus berulang setiap kali mesin PCR mengeluarkan hasil positif.

Karena tugasnya menelusuri kontak erat di seputar pasein positif, wilayah kerjanya pun tak kenal batas wilayah. Sekali waktu bisa di pusat kota, lain waktu bisa masuk pelosok kampung. Tergantung pada pergerakan kasus.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Mimi, Reynold Ubra bercerita, beberapa waktu lalu seorang warga Distrik Mimika Timur terkonfirmasi positif covid-19. Tim penyelidikan epidemiologi pun turun ke sana melacak kontak erat si pasien. Dia menyebut tujuh orang yang melakukan kontak erat dengannya di sebuah rumah.

"Kami pergi ke rumah tersebut, rumah tersebut adalah rumah kosong,", cerita Reynold, Jumat (12/06/2020) malam.

Kejadian serupa bukan sekali dua kali terjadi. Banyak kontak erat pasien covid-19 tidak jujur dan tertutup saat diwawancarai. Bahkan, tak jarang tim penyilidikan epidemiologi mendapat penolakan.

"Saya pun pernah mengalami penolakan itu," kata Reynold.

Dalam banyak kasus, pihak keluarga pasien enggan membuka diri karena takut mendapat stigma dan diskriminasi dari warga. Bayang-bayang ketidakberterimaan warga jadi momok pelacakan kontak sampai pada saat harus meminta keluarga ikut pengambilan swab.

"Ketika keluarga mau membuka diri, mereka takut terstigma. Dan memang masih banyak warga yang belum bisa menerima. Mereka takut dengan tetangga, takut ketika harus ada di tempat kerja, jangan sampai ketahuan," ungkapnya.

Tugas tim penyelidikan epidemiologi tak berhenti pada pelacakan kontak erat. Mereka harus mengedukasi, memastikan proses karantina mandiri berjalan tanpa risiko menularkan ke orang lain. Apalagi pada faktanya, penularan di Timika, pada banyak kasus terjadi di dalam rumah.

Tapi di sisi lain, anggota tim penyelidikan epidemiologi sesungguhnya adalah yang paling berisiko tertular. Mereka berinteraksi langsung dengan para kontak erat pasien positif covid-19. Bekerja harus disiplin pada SOP.

"Itu suka dukanya," ujar Reynold.

Kasus yang dilporkan belakangan, bahkan sejak bulan lalu adalah hasil tracing kontak tim penyelidikan epidemiologi. Terutama kasus yang ditemukan di Kota Timika, itu hasil kerja mereka.

"20 kasus terakhir, hasil tracing kontaknya lebih kurang 408 orang," katanya

Reynold menjelaskan, seharusnya di Mimika bisa ditemukan 40 sampai 50 kasus positif dalam sehari. Ini untuk membongkar fenomena gunung es dan memotret kurva penularan covid-19.

Prinsipnya, menemukan kasus sebanyak mungkin dan menanganinya adalah salah satu cara paling efektif membendung laju penularan virus ini. Dan tim penyelidikan epidemiologi telah dan masih sedang mengerjakannya. (Burhan)