Dolly Kuum & Perjuangan Menjaga Pesisir Mimika, Jalan yang Tak Pernah Ia Pilih
Papua60detik - "Saya pernah menghindar, tidak mau kerja-kerja ini, tetapi ternyata ini panggilan, bukan saya yang ambil jalan ini."
Begitulah Adolfina Kuum yang akrab disapa Dolly menjawab pertanyaan mengapa jadi aktivis di tengah banyaknya peluang mendapatkan profesi lain, terutama karena ia Orang Papua Asli (OAP).
Dua jam di sekretariat Lembaga Peduli Masyarakat Mimika Timur (Lepemawi), Timika, Selas (28/07/2026), ia bercerita banyak.
"Saya dipilih oleh alam dan leluhur. Saya pikir, kebanyakan saya punya hidup, mereka yang tentukan," tambahnya.
Ia menyeruput kopi yang sejak tadi ada di meja. Tinggal setengah gelas.
Di ruangan yang tidak terlalu luas untuk ukuran sebuah kantor, Dolly duduk tampak tenang, ditemani gambar-gambar kampanye lingkungan yang terpasang di dinding. Di belakangnya ada papan tulis, isinya belum sempat dihapus. Di sana tertulis jadwal dialog dengan para pembela HAM.
Melihat sosoknya, barangkali yang terlintas di benak adalah penggalan lagu, 'Hitam kulit keriting rambut, aku Papua', milik Edo Kondologit. Itulah Dolly, perempuan suku Amungme, yang dikenal sebagai aktivis lingkungan dan HAM. Perempuan kelahiran 1980 ini juga pendiri dan memimpin Lepemawi sejak tahun 2014.
Masa kecil hingga remaja dihabiskan di Aramsolki, salah satu kampung kecil di Distrik Agimuga, Kabupaten Mimika. Setelah lulus SMA dari Jayapura, ia melanjutkan kuliah di Manado. Di bangku kuliah, ia aktif mengikuti organisasi membentuknya menjadi mahasiswa kritis.
"Saya sempat berhenti kuliah karena mama meninggal, itu tahun 2001. Tetapi keluarga mendesak, saya pun melanjutkan kuliah Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Yogyakarta," kenang Dolly. "Gelar saya S. IP. Tetapi saya tidak pakai gelar itu lagi," ucapnya sambil tertawa.
Ia mengaku lebih banyak berkampanye tentang isu lingkungan. Kesehariannya tidak jauh dari berdiskusi, mendampingi masyarakat, serta mengadakan pertemuan bersama berbagai komunitas, mulai dari kelompok mama-mama, mahasiswa, hingga organisasi masyarakat.
Selain itu, ia juga sering dimintai keterangan oleh media nasional dan lokal. Hal itu karena isu-isu di Papua khususnya Kabupaten Mimika selalu menjadi sorotan, terutama terkait aktivitas PT Freeport Indonesia yang berdampak pada lingkungan.
Di sela-sela wawancara, beberapa kali ponselnya berbunyi. Namun, Dolly mengabaikannya. "Saya menyelesaikan wawancara ini dulu," katanya.
Apa yang mengantarnya menjadi seorang aktivis bukanlah ingin terlihat hebat dan dikenal orang, melainkan terinspirasi dari ayahnya, Almarhum Anton Kuum yang meninggal pada tahun 1999 lalu. Ayahnya adalah seorang guru, aktif menyuarakan keadilan. Saat kecil, Dolly sering mengikuti ayahnya ke mana-mana. Saat itu situasi Daerah Operasi Militer (DOM) masih sangat rumit.
Sementara ibunya, Ria Tsolin mendidiknya dengan cara berbeda.
Ria Tsolin mengingatkan agar ia berhati-hati berbicara. Ketika teman-teman sebayanya senang berkumpul dan bercerita, ibunya justru melarangnya. Hal itu membuat Dolly memilih jalan mengamati kegiatan warga sekitar.
Dari situlah Dolly melihat banyak ketidaknyamanan terjadi di tengah masyarakat. Salah satu contohnya mama-mama mengeluh karena limbah dari perusahaan mengakibatkan pendangkalan dan mempersempit ruang hidup mereka.
"Mental saya ini dididik di jalanan bukan di kantor atau di rumah. Memang kalau mau jadi aktivis itu, harus siapkan mental. Bapa dan Mama saya keras, dan sekarang saya mengerti kalau itulah yang membentuk saya," tambahnya.
Saat menceritakan keluarganya, raut wajah Dolly perlahan berubah. Wajah yang semula tegas berubah sendu menyimpan rindu yang tidak terucapkan kepada orang tuanya. Ia bercerita, Almarhum ayahnya masih sering datang ke mimpinya, apalagi ketika ada bahaya yang mengancam. Bagi Dolly, itu adalah pertanda sekaligus suara leluhur yang beberapa kali menyelamatkannya dari bahaya.
Namun, wajah itu kembali tegas, ketika ia mengingat anggapan sebagian pihak dari perusahaan dan pemerintah yang menilai aktivis sebagai pemberontak serta anti pembangunan. Padahal menurutnya, aktivis justru membantu menunjukkan bahwa ada persoalan di masyarakat yang belum terjangkau.
"Saya bilang kita bukan melawan, tetapi kita hanya menunjukkan bahwa di sini ada persoalan, tetapi kamu tidak lihat," katanya, tak habis pikir. "Seharusnya mereka tanya apa yang bisa dilakukan, bukan malah menyebut kami pemberontak," kedua alisnya terangkat, heran dengan anggapan yang menurutnya keliru. Ia kembali menyeruput kopi, seolah menemukan kelegaan di sana.

Suara keras tentang lingkungan membuatnya sering menerima ancaman verbal, fisik, bahkan pernah diculik. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangatnya. Ia tidak ingin beberapa tahun ke depan, masyarakat benar-benar kehilangan ruang hidup. Terutama warga pesisir yang memegang teguh filosofi 3S: sagu, sampan dan sungai.
Tantangan seorang aktivis taklah mudah. Bukan hanya kenyamanan diri sendiri yang terusik, keluarga dekatnya pun kerap mendapatkan intimidasi. Karena itu, setiap kali situasi memanas atau aksi digelar, Dolly sering berpindah-pindah tempat dengan alasan keamanan.
Suara kendaraan berknalpot brong yang melintas beberapa kali menghentikan wawancara. Kebetulan, sekretariat itu berada tepat di pinggir jalan. Dolly menarik napas panjang. Satu batang rokok yang menemani, kini tinggal puntung.
Di balik perjuangannya sebagai seorang aktivis, ada harga yang harus dibayar. Dolly dihadapkan dengan pergumulan berat, termasuk melawan arus budaya patriarki. Keluarganya berharap ia bekerja di kantor dan menjalani kehidupan sebagai perempuan seperti biasanya, mengurus rumah tangga dan keluarga. Bukan malah memimpin organisasi atau menjadi koordinator aksi.
Setelah diam beberapa saat, perempuan Amungme itu tampak menimbang kata-katanya. Ia kemudian bercerita kalau dirinya juga pernah berkeluarga, tetapi pisah setelah tiga tahun hidup bersama dan melahirkan dua anak. Kesibukannya pada organisasi membuat waktu untuk keluarga terbatas. Meski rumah tangga retak, tetapi hubungan mereka tetaplah baik.
"Saya dipanggil, saya dipilih. Berarti ada misi yang harus saya selesaikan dan itu menjadi kebanggaan bagi diri sendiri. Kita memperjuangkan lingkungan, supaya anak cucu kita tidak kehilangan ruang hidup," katanya penuh keyakinan.
Deru kendaraan kembali melintas menghentikan percakapan. Sebatang rokok kembali dinyalakan. Setelah bising reda, ia melanjutkan ucapannya.
"Karena saya bisa merasakan bahwa alam semesta bisa berbicara. Dan saya lebih mendengar itu dibanding profesor yang menasehati saya terkait bahaya".
Kalimat itu menunjukkan bahwa ancaman tidak akan menghentikan langkahnya. menjelaskan bahwa dengan banyaknya ancaman tak membuatnya mundur. Bagi Dolly, alam mampu memberikan segalanya termasuk keamanan, tugas manusia adalah menjaganya.
Perjuangan Dolly dan Lepemawi tidak berhenti pada aksi dan kampanye. Hingga kini, mereka masih mengawal pelaksanaan kesepakatan dengan PT Freeport Indonesia di wilayah pesisir Timur Mimika.
Kesepakatan itu dicapai pada 11 September 2023 lalu di Jakarta. Ada dua program yang sedang berjalan yaitu pembangunan rumah transit dan penanaman mangrove. Kedua program tersebut dikerjakan oleh CV Anak Dusun Mimika dengan pendampingan Lepemawi.

Meski demikian, Dolly mengungkapkan keinginannya membangun sebuah lembaga lingkungan yang memiliki sistem regenerasi yang jelas. Ia juga ingin mendirikan lembaga yang menjadi ruang aman bagi perempuan untuk melapor dan mendapatkan pendampingan ketika mengalami kekerasan.
Meski sulit mewujudkan cita-cita tersebut, ia yakin suatu saat akan ada anak-anak muda yang terjun ke dunia aktivis. Terlebih di tengah zaman yang serba instan, hal itu memang tidak mudah. Namun, siapa yang tahu.
"Siapapun tidak mau jadi aktivis karena uangnya tidak ada," katanya sambil tertawa kecil. Baginya jadi aktivis bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan lagi.
Ia meneguk sisa terakhir kopi itu, entah sudah berapa batang rokok berganti selama wawancara berlangsung. Sementara suara kendaraan masih terus lalu lalang di jalan itu.
HP-nya kembali berbunyi, kali ini dia mengangkatnya. Memang, ia benar-benar sibuk.
Di tempat sama dengan waktu yang berbeda, wawancara kembali dilanjutkan, kali ini dengan Fransiskus teman Dolly yang tinggal di sekretariat Lepemawi.
Gambar-gambar di dinding masih tetap dengan posisinya hanya saja papan tulis sudah bersih, sepertinya akan ada jadwal baru ditulis di sana. Meja diskusi pun masih tertata rapi, mungkin karena pagi hari sehingga belum banyak aktivitas di sana. Hanya Dolly yang sedang melakukan pertemuan during di ruangan sebelah.
"Dia banyak memberikan waktu pada persoalan-persoalan di tanah kelahirannya. Itu yang membedakan dengan yang lain. Namun, ia tetaplah perempuan Amungme yang berperasaan seperti ibu," kata Fransiskus memulai percakapan tentang bagaimana pendapatnya tentang Dolly.
Ia sudah kenal lama dengan aktivis tersebut karena memang masih ada hubungan marga. Namun, ia mengaku baru mengetahui pergerakan terkait aktivis pada tahun 2023 lalu. Seiring berjalannya waktu, Fransiskus turut membantu mengelola website Lepemawi mengkampanyekan isu lingkungan dan HAM.
Di tengah kesibukan di sekretariat itu, Fransiskus justru lebih mengkhawatirkan kesehatan Dolly. Menurutnya, sebagai aktivis, dia sering lupa menjaga diri karena padatnya aktivitas. Ia berharap sahabatnya itu untuk tetap menjaga kesehatan agar dapat terus melanjutkan perjuangan.
"Yang saya lihat, Dolly sering lupa menjaga kesehatannya. Saya pikir, dia harus peduli dengan diri sendiri walaupun sibuk dengan urusan lain. itu penting,” ucapnya dengan tulus.
Wawancara selesai. Namun, deru kendaraan di luar sekretariat tak pernah benar-benar berhenti. kebisingan itu seolah-olah menjadi irama yang menemani aktivitas Dolly dan kawan-kawan di sana. Dan si aktivis masih juga rapat. (Martha)