HKN Sudah 56 Tahun dan Mimika Masih Harus Banyak Berbenah
Diseminasi Program Kesehatan tahun 2020 di Hotel Grand Mozza, Kamis (12/11/2020).
Diseminasi Program Kesehatan tahun 2020 di Hotel Grand Mozza, Kamis (12/11/2020).

Papua60detik - Mimika masih harus banyak berbenah di Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-56 tahun ini, Kamis (12/11/2020). Indikator-indikator kesehatan masih jauh dari target.

HKN merupakan momentum memperingati upaya pemberantasan penyakit malaria. Bayangkan, pemberantasan malaria jadi momen HKN sejak 56 tahun lalu dan sampai saat ini, malaria di 2020 masih jadi penyakit paling sulit ditekan apalagi dieliminasi kasusnya di Timika.

Bagi Wakil Bupati Kabupaten Mimika, Johannes Rettob, perlu kerja sama intensif dari berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

"Bidang kesehatan hanya memberikan kontribusi 25 persen, sisanya adalah hasil kerja sama dari berbagai sektor untuk bisa menyehatkan masyarakat. Contohnya stunting, dari segi kesehatan penanganannya tidak sulit, karena hanya pemenuhan gizi. Tetapi ternyata faktor air bersih sangat berpengaruh, masak kesehatan juga yang mau bikin? maka dari itu kerjasama itu sangat penting," katanya.

Pada Diseminasi Program Kesehatan tahun 2020 di Hotel Grand Mozza, Kamis (12/11/2020) terungkap, hingga Agustus 2020 terdapat dua kematian dari 1789 kelahiran hidup. Sementara terdapat 13 angka kematian prenatal dari 1789 kelahiran hidup di periode yang sama.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Kabupaten Mimika Lenni Silas dalam presentasinya mengatakan, dari target 5.872 ibu hamil, target kontak ibu hamil pertama kali dengan petugas kesehatan pada trimester 1 (K1) hanya mencapai 36,3 persen. Angkanya menurun lagi di K4, yakni hanya mencapai 21,4 persen.

Sementara untuk status gizi pada balita periode Januari-Oktober, Dinkes mencatat gizi kurang di Mimika mencapai 12,60 persen, stunting  sebanyak 21,23 persen dan gizi buruk 7,9 persen.

Bukannya meningkat, indikator capaiannya malah turun tahun ini dibanding 2019 lalu.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Francisca Kilangin memaparkan, pemeriksaan TBC dari sasaran 10.314 hanya berhasil mencapai 3.845.

Pengobatan pasien TB sasarannya sebanyak 1910 tapi capaian hanya 1126. Pada program nvestigasi kontak sasaran, target 1126, capaiannya melorot ke 170. Terakhir, pengobatan TBC resisten obat sasaran hanya mencapai 13 dari 53 target.

"Khusus untuk program kusta berdasar data penemuan dan pengobatan kusta sasarannya 100 capainnya 70. Kemudian malaria seluruhnya hampir mencapai target," kata Fransisca.

Di beberapa wilayah, Dinas Kesehatan mencoba  pelayanan kesehatan bergerak  yakni di Kampung Yapakopa, Aindua, Ararau, Ipaya, Sumapro dan Banti. Penentuan wilayah ini berdasarkan kriteria khusus, misalnya Kampung Yapakopa, Aindua, Ararau bermasalah tentang penyakit terabaikan. Lalu Kampung Ipaya bermasalah tentang kesehatan ibu dan anak.

Sayangnya, persoalan kesehatan itu tidak dibarengi dengan pengelolaan SDM kesehatan yang memadai.

Kepala Bidang Sumber Daya Tenaga Kesehatan Eddy Paundanan mengungkap, perekrutan tenaga kesehatan yang tidak sesuai dengan alur dan jenis kebutuhan, terjadi penumpukan jenis tenaga kesehatan tertentu di setiap puskesmas khususnya di dalam kota. Parahnya, jumlah petugas kesehatan malah lebih banyak dari yang dibutuhkan.

"Ketersediaan tenaga kesehatan di Kabupaten Mimika saat ini mencapai 112 persen. Artinya tenaga yang ada lebih banyak daripada tenaga yang kita butuhkan," ungkapnya. (Fachruddin Aji)