Ini Cerita Perawat dari Ruang Isolasi Covid-19 RSUD Mimika
Papua60detik - Lewat akun facebooknya, Karlina Kasim dengan berpakaian hazmat lengkap mengunggah sebuah video ucapan selamat ulang tahun untuk puteri sulungnya, Mishadina Naila Askar yang genap berusia 12 tahun pada 09 April 2020.
Dari caption videonya, kita tahu Karlina adalah seorang perawat yang sejak 4 April lalu bertugas di ruang isolasi khusus pasien corona virus (covid-19) RSUD Mimika.
Sejak bertugas di ruang isolasi, ia memutuskan tak lagi pulang ke rumah. Suaminya adalah anggota Polri yang selalu patroli mengimbau warga tetap di rumah. Maka ia memutuskan menitip sementara waktu dua buah hatinya, 12 dan 3 tahun di rumah keluarga.
"Sekarang anak-anakku dititip di tantenya. Saya menginap di RS (RSUD Mimika). Suami patroli terus. Kami berempat benar-benar terpisah," katanya.
Ia melanjutkan, "Karena saya tidak boleh kontak dengan keluarga dan saya memilih untuk tinggal di RS. Saya memilih tidak dibesuk. Risiko sekali kalau keluarga mau jenguk saya".
Selain penanganan teknis medical, para tenaga medis juga membantu para pasien tetap kuat melawan ganasnya covid-19. Kepada para tenaga medis, para pasien yang sebagian ibu-ibu ini biasa cerita, sudah rindu kumpul bersama keluarga dan ngobrol dengan tetangga.
"Rata-rata pasien ibu-ibu bilang rindu ke pasar, rindu memasak untuk keluarga, rindu keluarga dan tetangga. Kami hanya kasih semangat dan bilang pasti bisa sembuh dan bisa pulang. Semangat ya bu. Ibu sehat kami bangga dan bahagia. Mereka bilang Tuhan Yesus memberkati," cerita Karlina.
Dibalut pakaian hazmat ketat, ia sempat mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen. Penglihatannya jadi gelap dan keringat dingin. Untung rekan-rekannya cepat membantu.
"Saya bahagia dengan teman-teman di ruang isolasi, saling dukung dan membantu. Saya bahagia sekali punya tim seperti mereka. Saya mencintai pekerjaan ini," katanya.
Berjibaku dan berhadap-hadapan dengan risiko jadi korban penularan covid-19, Karlina hanya minta hal sederhana, warga tetap berada di dalam rumah. Berada di dalam rumah menjadi cara paling efektif memutus rantai penularan covid-19.
"Tidak ada lain, stay at home (tinggal di rumah). Bantu kami putuskan rantai (penularan covid-19) ini. Tolong jangan keluar-keluar, virus ini tidak main-main," pesannya.
Dalam perang melawan penularan covid-19, para tenaga medis sejatinya ada di pertahanan terakhir. Garda paling depan dalam perang pandemi ini adalah warga sendiri. Tugas warga sederhana, cukup berada di dalam rumah, keluar hanya untuk urusan darurat.
Para tenaga medis ini juga seperti pasien yang sementara diisolasi, rindu berkumpul dengan keluarga. Berada di dalam rumah akan sangat membantu mereka, setidaknya mengurangi jumlah pasien yang harus ditangani.
Apa alasan itu tak cukup membuat kita, warga menahan diri untuk berada sementara waktu di dalam rumah? (Burhan)