Kejar Target SPM, Dinkes Mimika Perkuat Pelayanan Bayi Baru Lahir
Dinkes Mimika melaksanakan kegiatan validasi data dan evaluasi program pelayanan bayi baru lahir, foto: Martha/ Papua60detik
Dinkes Mimika melaksanakan kegiatan validasi data dan evaluasi program pelayanan bayi baru lahir, foto: Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Guna meningkatkan akurasi data, cakupan pelayanan, serta kualitas program sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM), Dinas Kesehatan Mimika melaksanakan kegiatan validasi data dan evaluasi program pelayanan bayi baru lahir (BBL), Rabu (10/06/2026). 

Kegiatan tersebut dihadiri oleh dokter dan penanggung jawab MTBS dari 26 puskesmas, dokter klinik dari Klinik Bersalin Julia, Klinik Aisah Care, Klinik Pemda Utikini Baru, Klinik Pomako, Klinik Wangirja, serta perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika. 

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Mimika, Nelly Pangaribuan, menyebut pelayanan bayi baru lahir merupakan bagian penting dalam upaya penurunan Angka Kematian Bayi (AKB). 

Hal ini juga menjadi indikator SPM Bidang Kesehatan yang harus mencapai target 100 persen.  Adapun pelayanan tersebut meliputi kunjungan neonatal lengkap(KN1, KN2, KN3), pelayanan esensial, serta skrining bayi baru lahir.

Berdasarkan hasil evaluasi tahun 2025, cakupan pelayanan bayi baru lahir telah mencapai 91,9%, sedangkan cakupan kunjungan neonatal lengkap (KN lengkap) sebesar 86,4%. Nelly mengatakan, meskipun capaian tersebut cukup tinggi, angkanya masih belum memenuhi target Standar Pelayanan Minimal (SPM).

"Berdasarkan data tersebut, kita memerlukan kegiatan validasi data dan evaluasi program pelayanan bayi baru lahir guna meningkatkan akurasi data, cakupan pelayanan, serta kualitas pelaksanaan program sesuai standar SPM," ujar Nelly saat diwawancarai. 

Persolaan lainnya, ungkap Nelly, pelaksanaan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) juga belum dilakukan di seluruh fasilitas kesehatan. Selain itu, masih terdapat perbedaan data antara aplikasi SIGIZI-KESGA dan laporan manual LB3 KIA, yang menunjukkan sistem pencatatan dan pelaporan belum optimal sehingga pemanfaatan data untuk perencanaan dan evaluasi program belum maksimal.

"Kita ingin memastikan data bayi baru lahir valid dan konsisten, mengetahui capaian pelayanan neonatal beserta kendalanya, serta menyusun rencana tindak lanjut (RTL) untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja program," pungkasnya. (Martha)