Keuskupan Timika Sebut Korban Penembakan di Intan Jaya Adalah Pewarta Gereja Katolik
Rufinus Tigau yang  tewas tertembak oleh TNI-Polri di Kampung Jalae Distrik Sugapa, Kabupaten Intan pada Senin (26/10/2020) pagi kemarin.
Rufinus Tigau yang tewas tertembak oleh TNI-Polri di Kampung Jalae Distrik Sugapa, Kabupaten Intan pada Senin (26/10/2020) pagi kemarin.

Papua60detik - Administrator Diosesan Keuskupan Timika Pastor Marthen Kuayo menegaskan, Rufinus Tigau adalah seorang seorang pewarta Gereja Katolik.

Rufinus Tigau tewas tertembak oleh TNI-Polri di Kampung Jalae Distrik Sugapa, Kabupaten Intan pada Senin (26/10/2020) pagi kemarin. 

"Rufinus Tigau adalah katekis yang bekerja di Gereja Katolik Stasi Jalae, Paroki Santo Michaelel Bilogai - Sugapa, dimana daerah itu masuk dalam wilayah Keuskupan Timika," katanya dalam siaran pers, Selasa (27/10/2020).

Pastor Marthen mengatakan, Rufinus telah bekerja sebagai katekis di Paroki Santo Michaelel Bilogai sejak tahun 2015. Ia dilantik sebagai katekis oleh Pastor Paroki Santo Michaelel Bilogai, Pastor Yustinus Rahangier Pr menggantikan katekis yang meninggal, Frans Wandagau.

"Rufinus membantu Pastor di Paroki Jalae karena Pastor yang bertugas di sana bukan orang lokal sehingga tidak memahami bahasa setempat, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan konteks budaya lokal," jelasnya.

Belum lama berselang, seorang Katekis di Gereja Stasi Emondi, Agustinus Duwitau yang dilantik setelah pelantikan Rufinus, juga ditembak oleh aparat keamanan pada 7 Oktober 2020 lalu.

"Agustinus ditembaki dalam perjalanan ke Emondi. Saat ini Agustinus masih menjalani perawatan karena luka tembak yang dialaminya," ungkapnya.

Ia mengatakan, paroki atau gereja selalu butuh orang yang punya latar belakang pendidikan atau bisa baca tulis untuk menjadi pewarta seperti Rufinus. Dalam ibadah setiap minggu, pewarta juga berdiri di depan mimbar bersama dengan pastor.

"Karena pastor baca Alkitab dan khotbah dalam Bahasa Indonesia, pewarta langsung menerjemahkan lisan dalam bahasa lokal, agar umat yang tidak mengerti Bahasa Indonesia bisa paham dan ikut ibadah," ujarnya.

Pada Natal bersama lalu, Katekis Rufinus menjadi penerjemah khotbah dalam bahasa daerah.

"Tuduhan bahwa Rufinus terlibat dalam gerakan separatis atau kelompok bersenjata yang dituduhkan kepadanya adalah tidak benar," tegasnya.

Saat ini, Keuskupan Timika sedang menyusun laporan dan kronologis insiden penembakan yang menewaskan Rufinus.

Sementara itu, pejabat TNI-Polri berdalih, menyebut Rufinus merupakan anggota KKB Pimpinan Sabinus Waker.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal mengatakan, tim gabungan TNI-Polri melakukan penindakan tegas terukur lantaran anggota KKB melakukan perlawanan dengan kekuatan 50 orang.

Rufinus (ia sebut Rubinus) tewas tertembak pada saat pada peristiwa itu. Sementara adiknya, Hermanus Tigau tertangkap dalam peristiwa itu.

"Beredarnya berita tentang penembakan seorang Katekis Katolik dan seorang anak kecil di bawah umur mengalami kritis itu tidak benar atau hoax," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal dalam keterangan persnya Senin malam.

Ia mengungkap, hasil penyidikan tim membawa petunjuk lokasi persembunyian 50 orang KKB kelompok Sabinus Waker. Tepat setelah penindakan, beredar narasi penembakan terhadap remaja katekisan.

Padahal setelah dikonfirmasi pihak keluarga korban penembakan, remaja tersebut telah dengan sukarela bergabung dengan KKB. Pada penyerangan tersebut, remaja dipersenjatai mirip seperti strategi perang di Sudan.

Terkait kejadian yang sama, Kepala Penerangan Kogabwilhan III,  Kolonel Czi IGN Suriastawa mengatakan, penindakan oleh TNI-Polri merupakan hasil pengembangan pasca penghadangan TGPF oleh KKSB pada 9 Oktober lalu.

"Kita tidak menyebutkan bahwa korban bukan Katekis. Hanya saja, sudah dipastikan oleh adiknya yang juga kita amankan atas nama Hermanus bahwa kakaknya memang aktif dalam aksi KKSB selama kurang lebih satu tahun terakhir," kata Suriastawa saat dikonfirmasi melalui sambungan panggilan WhatsApp, Senin malam.

Suriastawa menuding, diksi katekisan digunakan oleh KKB untuk menggiring opini berbasis agama. Menurutnya, TNI-Polri sangat menghormati tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat dimanapun, termasuk di Papua.

"Tidak ada keuntungan berseberangan dengan tokoh-tokoh ini, apalagi membunuhnya. Justru TNI-Polri sangat membutuhkan kerja sama para tokoh ini karena dengan pengaruhnya yang sangat besar kepada masyarakat, dan seharusnya dapat menjadi contoh tauladan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam kepatuhannya pada hukum Indonesia," imbuhnya. (Salmawati Bakri)