Lebih Rendah dari Prevalensi Nasional, Stunting Tetap Jadi Masalah Serius di Mimika
Papua60detik - Angka prevalensi stunting di Kabupaten Mimika kisaran 9 persen. Angka itu jauh lebih rendah dari prevalensi nasional, 27,67 persen pada 2019.
Meski begitu, Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra mengatakan, angka prevalensi itu harus dilihat sebagai fenomena gunung es. Artinya, situasi real kasus stunting sebenarnya jauh lebih besar dari gambaran prevalensinya.
"Bahwa angka 1 berarti ada 100 di balik angka itu," kata Ryenold, Selasa (08/09/2020).
Ia berpendapat, stunting masih menjadi masalah kesehatan serius di Mimika. Bukan hanya karena angka kasusnya, tapi dari kompleksitas pemicu dan penyebabnya.
Pemicu terjadinya Balita stunting di Mimika tak hanya aspek asupan gizi, tapi juga terkait faktor pelayanan kesehatan ibu dan anak. Sebut saja, antenatal care atau pemeriksaan kehamilan yang tidak lengkap. Bahkan, masih ada kasus persalinan ditolong oleh dukun beranak, bukan tenaga kesehatan.
Selain itu, sebut Reynold penyakit menular endemis seperti malaria dan TB anak menjadi pemicu kasus stunting di Mimika.
"Misalnya ibu semasa hamil kena malaria. TB anak di Timika tinggi, di Manasari kasus TB anak ada delapan pada 2019, terus Juni, semester pertama 2020 naik jadi 16, dua kali lipat. Ini menunjukkan stunting menjadi masalah kesehatan serius di Mimika," ungkapnya.
Menurutnya, yang perlu dilakukan saat ini adalah mendesain sistem terintegrasi dan berkesinambungan untuk mencegah naiknya kasus stunting.
Di sektor pelayanan misalnya, petugas kesehatan harus memantau setiap ibu hamil sampai melahirkan dan dikawal selama dua tahun.
Secara umum, stunting atau kerdil merupakan kondisi ketika Balita memiliki tinggi badan yang kurang jika dibandingkan umurnya. Kondisi ini menggambarkan terjadinya gangguan pertumbuhan karena kekurangan gizi kronis.
Masalah stunting menjadi penting karena efek dominonya. Stunting akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.
"Stunting sangat mempengaruhi tingkat kecerdasan anak," kata Reynold.
Menurutnya, di sinilah pentingnya kampanye 1000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak ibu hamil sampai anak berusia dua tahun. (Burhan)